Upacara Adat Tedhak Siten




A. Pengertian

Dalam kehidupan orang Jawa, setiap fase yang dilalui selalu diikuti dengan upacara atau ritual. Ritual yang dilakukan oleh orang Jawa pada dasarnya adalah ungkapan rasa syukur, do’a permohonan keselamatan, dan ajaran-ajaran untuk menjalani hidup dan kehidupan yang semua itu diwujudkan dengan simbol-simbol melalui prosesi maupun kelengkapannya.

Salah satu upacara adat yang dilakukan oleh orang Jawa adalah ketika anaknya sudah mencapai umur 7 bulan. Orang Jawa meyakini bahwa dalam usia 7 bulan adalah saat yang paling tepat untuk memperkenalkan anaknya kepada tanah. Oleh karena itu dilaksanakan upacara tedhak siten atau tedhak siti.

Secara etimologis, tedhak siti berasal dari kata ‘tedhak’ dan ‘siti’. Tedhak berarti turun, sedangkan siti adalah tanah. Jadi tedhak siti adalah upacara adat yang diperuntukkan bagi bayi yang berusia 7 lapan (7 x 35 hari) atau 245 hari untuk diperkenalkan kepada tanah. Dalam kamus bahasa Jawa Indonesia kata tedhak siti diartikan upacara selamatan anak mulai menapak di tanah (Tim Balai Bahasa DIY, 2021: 798). Pada usia itu, si anak mulai menapakkan kakinya untuk pertama kali di tanah. Oleh orang tuanya diajari atau dituntun menggunakan kakinya untuk belajar berjalan. Ritual ini menggambarkan kesiapan seorang anak untuk menghadapi kehidupannya.

Seperti dalam kepercayaan orang Jawa, manusia dalam hidupnya terbenruk dari unsur-unsur bumi, angin, api dan air. Dan di dalam menjalani kehidupannyapun juga dipengaruhi oleh empat unsur tersebut. Maka untuk menghormati bumi diadakanlah upacara tedhak siten ini. Harapannya agar si anak selalu sehat, selamat dan sejahtera dalam menapaki jalan kehidupannya.

Untuk melaksanakan suatu upacara, orang Jawa selalu memilih hari yang diyakini hari itu baik dan cocok. Dalam melaksanakan upacara tedhak siten inipun orang Jawa memilih hari yang baik, yaitu pada hari yang bertepatan dengan weton si anak. Weton adalah hari lahir atau kelahiran (Tim Balai Bahasa DIY, 2021: 883). Weton berasal dari kombinasi antara hari saptawara yaitu perhitungan hari yang berjumlah tujuh (Senin, Selasa, rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, dan Minggu) dan pancawara yaitu perhitungan hari yang berjumlah lima (Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon). Sampai saat ini orang Jawa masih menggunakan kedua perhitungan tersebut. Apabila anaknya lahir pada hari Senin Legi maka penyelenggaraan upacara tedhak siten dilaksanakan pada hari Senin Legi di waktu pagi hari. Pelaksanaan upacara tedhak siten biasanya dilakukan di halaman depan rumah.

B. Peralatan Upacara

Ada beberapa peralatan atau perlengkapan yang digunakan dalam upacara tedhak siten

  1. Dua Bokor tempat air bunga telon.
    Bokor adalah suatu tempat atau wadhah yang bentuknya seperti panci tetapi berkaki, biasanya terbuat dari logam.

    Gambar diambil dari: https://bokor-folklore.blogspot.com/
    Pada nantinya bolor tersebut digunakan untuk tempat air yang diberi bunga telon. Bunga telon adalah bunga yang terdiri dari tiga jenis, dan biasanya yang dipilih adalah bunga mawar, melati, dan kenanga atau kantil.

  2. Dua handuk kecil dan sedang

  3. Tangga dari tebu wulung
    Tangga yang terbuat dari pohon tebu yang berwarna wulung (hitam agak kebiruan)

    gambar di ambil dari: https://styluspoint.blogspot.com/2019/05/
  4. Kurungan ayam
    Kuruangan ayam adalah suatu alat yang digunakan untuk mengurung ayam agar tidak berlarian. Karena untuk kebutuhan upacara, biasanya kurungan tersebut kemudian diberi hiasan.

    gambar di ambil dari: https://22umanilowcasinochipatlantic.blogspot.com/2016/08/
  5. Mainan anak.Untuk mainan penyediaannya harus disesuaikan dengan jenis kelamin anaknya. Jika anaknya putri contoh mainannya adalah: perhiasan gelang/kalung, alat masak, buku, uang, Kitab Suci, dan sebagainya, Jika anaknya putra contoh mainannya adalah: uang, steloskop, mobil-mobilan, bola, buku, Kitab Suci, alat musik, dan sebagainya.

  6. Udik udik berupa : beras kuning, empon empon, permen dan uang logam

  7. Juadah (jadah /uli) : 7 rupa/warna juadah bulat (merah, putih, kuning, hijau, hitam, abu abu, ungu)

  8. Tumpeng slamet ( lengkap lauk pauk)

  9. Jajan pasar (rebusan pisang, polo kependem, polo gemantung : 1 tampah ukuran sedang)

  10. Bubur merah putih/sumsum

C. Tahapan Pelaksanaan

Ada beberapa urutan dalam pelaksanaan upacara tedhak siten.

  • Pertama orang tua menuntun anak agar berjalan di atas jadah sebanyak tujuh buah. Jadah tadi memiliki beragam warna yaitu merah, putih, hitam, kuning, biru, merah muda, dan ungu. Di daerah lain ada juga yang menggunakan bubur tujuh warna sebagai pengganti jadah 7 warna.
  • kedua adalah, si anak dituntun untuk menaiki dan menuruni tangga. Tangga dibuat dari batang tebu rejuna atau tebu wulung.
  • ketiga adalah si anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam. Di dalam kurungan terdapat berbagai benda permainan anak seperti perhiasan, alat tulis, beras, mainan, padi, kapas, dan berbagai benda lainnya yang disesuaikan dengan jenis kelamin anaknya.
  • keempat yaitu menyebarkan udhik-udhik. Udhik-udhik adalah uang logam yang dicampur dengan beras kuning. Ibu si anak menaburkan udhik-udhik tadi ke tanah, lalu jadi rebutan anak-anak kecil yang memang sengaja diundang untuk menyaksikan atau mengikuti upacara tersebut.
  • kelima adalah si anak dimandikan dengan air yang dicampur dengan bunga telon atau sering juga disebut sekar setaman. Kemudian si anak mengenakan baju yang baru.

D. Makna Filosofis Upacara Tedhak Siten

Dalam upacara tedhak siten mengandung beragam makna filosofis yang diwujudkan dengan bermacam-macam prosesi dan sesaji. Semuanya itu memiliki tujuan dan harapan agar si anak memiliki tubuh yang sehat, dan bisa menjalani kehidupan dengan baik. Dari prosesi awal, hingga yang terakhir memiliki nila-nilai dan harapan dari si orang tua. Makna filosofis dari berbagai prosesi tedhak siten adalah sebagai berikut :

  1. Berjalan melewati tujuh jadah dengan tujuh rupa.

    Jadah merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui si anak. Aneka warna memiliki berbagai makna. Merah melambangkan keberanian. Putih bermakna kesucian. Hitam artinya kecerdasan. Kuning merupakan simbol kekuatan. Biru berarti kesetiaan. Merah muda menandakan cinta kasih dan ungu sebagai lambang ketenangan. Makna yang terkandung dalam jadah ini merupakan simbol kehidupan yang akan dilalui si anak. Mulai dari menapakkan kakinya untuk pertama kali ke bumi ini sampai dewasa. Sementara warna-warna tersebut merupakan gambaran dalam kehidupan si anak yang akan menghadapi banyak pilihan dan rintangan yang harus dilaluinya.

    Jadah 7 warna yang disusun dari warna gelap ke warna terang menggambarkan masalah yang dihadapai si anak mulai dari yang berat sampai yang ringan. Jumlah jadah yang dibuat yaitu 7 buah (pitu). Harapannya seberat apa pun masalahnya pasti akan ada jalan keluarnya (mendapatkan pitulungan dari Tuhan Yang Maha Esa). Tujuh buah juga melambangkan jumlah hari yang akan dilalui oleh si anak dalam menjalani kehidupannya.

  2. Tangga tebu wulung

    Jumlah anak tangga adalah tujuh buah, dan menggunakan tebu arjuna. Tebu berasal dari kata antebing kalbu, yang berarti penuh tekad dan rasa percaya diri. Dipilih tebu arjuna agar si anak kelak meneladani watak kepahlawanan dan keberanian Arjuna dalam membela kebenaran.
  3. Kurungan

    Kurungan ayam yang dihiasi janur dan kertas warna warni. Kurungan ayam ini diisi oleh berbagai benda-benda. Kurungan ayam menyiratkan tentang gambaran kehidupan nyata yang akan dimasuki si anak jika kelak ia dewasa. Kenapa memakai kandang ayam, karena orang tua berharap agar anak dalam mengarungi kehidupan bisa cepat mandiri layaknya ayam. Sedangkan benda-benda yang ada di dalam kurungan itu menggambarkan pekerjaan yang ingin dijalani oleh si anak kelak.

  4. Menyebarkan udhik-udhik

    Makna dari upacara ini adalah pengharapan kedua orang tua kepada si anak agar nantinya bisa mendermakan rezekinya kepada mereka yang membutuhkan.

    Dalam acara ini, sesaji yang biasa digunakan antara lain kembang boreh, bubur baro-baro, macam-macam bumbu dapur, kinangan. Bubur baro-baro adalah bubur yang terbuat dari bekatul. Sesaji ini ditujukan kepada kakek nini among (plasenta/ari-ari). Sedangkan kembang boreh, macam-macam bumbu dapur, kinangan ditujukan untuk nenek moyang.

    Selain sesaji, ada juga perlengkapan pendukung, antara lain bubur merah putih, jajanan pasar, dan pala kependhem. Bubur merah putih melambangkan sengkala (rintangan). Merah artinya darah, sedangkan putih artinya air mani. Beragam jajanan pasar memiliki makna dalam kehidupan kita akan banyak berinteraksi dengan banyak orang dengan beragam karakter sehingga si anak dapat dengan mudah bersosialisasi pada masyarakat. Pala kependhem memiliki makna agar si anak memiliki sifat rendah hati (andhap asor) kepada orang lain.

Oleh : Slamet Nugroho





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai