Nilai Etika Dalam Tembang




Sebagai salah satu hasil kebudayaan, karya sastra mempunyai fungsi bagi kehidupan masyarakat. Karya sastra berdasarkan bentuknya dibagi menjadi dua yaitu prosa dan puisi. Dalam khasanah sastra Jawa, salah satu jenis karya sastra yang bersifat puitik adalah tembang/sekar. Karya sastra jenis tembang dibagi menjadi tiga jenis, yaitu Tembang Gedhe, Tembang Tengahan, dan Tembang Macapat. Karya sastra Jawa khususnya tembang, banyak mengandung nilai etika. Bahkan sebagian besar karya sastra Jawa berwujud tembang memuat ajaran-ajaran serta nilai-nilai adiluhung yang diwariskan hingga sekarang. 

  1. Menjaga Tata Krama
    Salah satu wujud nilai etika menjaga tata krama tersirat dalam kutipan baris dalam Sekar Dhandhanggula  berikut :
    wruhing kukum iku watekira, adoh marang kanisthane, pamicara puniku, weh reseping sagung miyarsi, tata krama punika.

    terjemahan:

    mengerti hukum itu artinya, jauh dari perbuatan tercela, jikalau berbicara enak didengarkan oleh semua orang, itulah tata krama

    Sekar Dhandhanggula
    tersebut memberikan gambaran kepada seseorang untuk dapat menjaga tata krama dengan cara mengerti hukum, jauh dari perbuatan tercela dan selalu berkata sopan dengan orang lain. Oleh sebab itu, manakala seseorang dapat menjaga tata krama maka hidupnya akan dihargai oleh masyarakatnya. Sebaliknya tatkala seseorang tidak dapat menjaga tata krama maka hidupnya tidak berharga sama sekali di hadapan masyarakatnya. Bahkan ungkapan Jawa menyatakan aji godhong jati aking  yang berarti ‘masih berharga daun jati yang kering’. Untuk itu, betapa pentingnya seseorang berupaya agar segala tindakannya selalu dilakukan  dengan sikap tata krama.
  2. Taat Menjalankan Perintah

    Wujud taat menjalankan perintah terdapat dalam kutipan gatra Sekar Dhandhanggula berikut:

    marma kula kinengkenan mriki, ngaturi jengandika, kinen mbengkas mungsuh, yen Subali saged pejah, ratu amba ngaturaken pati urip, nggih nedya manembah.

    terjemahan:

    makanya saya disuruh ke sini, untuk menyampaikan kepada anda, bahwa anda disuruh untuk memberantas musuh, jika Subali dapat mati, ratuku akan memberikan (segalanya), yaitu niat untuk mengabdi.

     Seorang prajurit berjuang dengan etika sepi ing pamrih atau ikhlas. Prajurit berjuang dengan mementingkan bangsa, negara dan orang banyak. Salah satu wujud perjuangan seorang prajurit terhadap kepentingaan bangsa dan negara antara lain menjalankan perintah raja dengan sebaik-baiknya. Dalam kutipan sekar di atas  menunjukkan bahwa tingkah laku seorang prajurit haruslah berbakti dan setia terhadap rajanya. Sebagai contoh sebagai prajurit diperintahkan raja untuk membunuh Subali, dan sebagai hadiahnya raja akan memberikan segalanya.

  3. Mengingatkan  kepada Seseorang

    Sebagai makhluk sosial manusia mempunyai kewajiban mengingatkan seseorang untuk melakukan perbuatan atau tidak melakukan perbuatan. Wujud nilai etika mengingatkan terdapat dalam kutipan gatra dalam Sekar Dhandhanggula berikut:

    heh bebakal sira kiye, gampang kalawan ewuh, apan aneng sira pribadi, yen waniya ing gampang wediya ing ewuh, sabarang ora tumeka, lah uworen ewuh gampang dadi siji, sayekti nora beda.

    terjemahan:

    he (anak muda) kamu itu bagaimana?, mudah dan sulit itu berada dalam dirimu sendiri, kalau kamu berani dalam kemudahan, takut pada kesulitan, hal tersebut tidak akan terlaksana, maka jadikanlah satu antara mudah dan sulit itu, sebenarnya keduanya itu tak berbeda.

    Sepenggal Sekar Dhandhanggula di atas mengingatkan kepada seseorang untuk tidak ragu-ragu didalam bertindak. Jika manusia di dalam bertindak hanya berani dalam hal-hal yang mudah dan takut dalam kesulitan, maka sesungguhnya apa yang akan diperbuatnya tidak akan terlaksana.
  4. Kasih Sayang

    Wujud nilai etika kasih sayang terdapat dalam kutipan Sekar Megatruh berikut ini:

    Sang Aprabu angratoni nagari gung, ing Ngayogyakarta nagri, apan wus kepara dangu, sinuyudan kawula dasih, tan aneng sulayeng batos.

    terjemahan:

    Sang Aprabu menjadi raja di negeri Ngayogyakarta, sudah beberapa lama beliau mengasihi para kawulanya, tidak ada yang iri hati.

    Kutipan sekar tersebut menunjukkan bahwa kasih sayang yang diberikan Sang Prabu kepada kawulanya sudah berlangsung lama. Sikap asah, asih, asuh Sang Prabu dapat ditujukkan dengan tidak membedakan besar kecilnya pangkat, tanpa membedakan orang baik dan buruk serta bersahabat dengan kawula, pendek kata Sang Prabu menyayangi para kawulanya. Hal tersebut terbukti bahwa para kawulanya tidak ada yang iri hati. Hal ini juga sesuai dengan kutipan Sekar Sinom, yaitu amemangun karyenak tyasing sasama dengan terjemahan membuat senang hati sesama.

    Dalam kaitannya dengan pemimpin, membuat senang hati sesama dapat diwujudkan dengan memperhatikan dan memberikan motivasi kepada bawahan. Pemberian perhatian dan motivasi secara manusiawi dan penuh kasih sayang akan mendorong para kawula untuk meningkatkan kariernya. Sentuhan kejiwaan secara personal maupun sosial akan menumbuhkan semangat bawahan untuk berkembang, sehingga kehidupan yang adil, sejahtera akan mudah terwujud.
  5. Bergaul dengan Orang yang Berperilaku Baik

    Aja cedhak kebo gupak. Maksud ungkapan tersebut adalah jangan mendekati orang yang berperangai buruk dengan harapan tidak tertulari keburukannya . Tetapi, ceraka marang wong bakul lenga wangi (dekatilah kepada orang yang menjual minyak wangi). Dua ungkapan tersebut menunjukkan kepada seseorang untuk dapat memilih dan memilah teman. Kebo diibaratkan sebagai orang perbuatannya buruk dan bakul lenga wangi diibaratkan sebagai orang yang berperilaku baik. 

    Wujud etika bergaul dengan orang yang berperilaku baik terdapat dalam Sekar Kinanthi, yaitu orang yang berkelakuan baik, orang yang kaya cerita. Cerita dalam pengertian di sini adalah cerita yang berguna (bukan bualan belaka) sehingga, diharapkan dengan bergaul terhadap orang tersebut dapat menambah ilmu.

    nadyan asor wijilipun, yen kelakuane becik, utawa sugih carita, cerita kang dadi misil, iku pantes raketana, darapon mundhak kang budi.

    terjemahan:

    meskipun dari kalangan rendah, tetapi jika perbuatannya baik, atau kaya akan cerita, cerita yang berguna maka dekatilah/bergaullah, supaya kamu bertambah ilmu.

    Berdasarkan kutipan sekar di atas, seseorang diharapkan untuk dapat lebih selektif dalam memilih dan memilah teman. Jika seseorang memiliki orientasi untuk tumbuh dan berkembang ke arah perilaku yang tidak melanggar etika, norma, dan hukum maka tidak ada pilihan lain untuk mencari teman pergaulan orang yang berperangai baik. Adapun indikator untuk memilih teman pergaulan yang baik antara lain; perbuatannya baik, dan kaya akan cerita.
  6. Menjauhi Perbuatan Buruk

    Perilaku amar ma’ruf nahi mungkar (melakukan hal-hal yang baik dan menjauhi perbuatan yang tercela) seyogyanya dilakukan seseorang guna keharmonisan diri. Sebagai perwujudan menjauhi perbuatan yang tidak baik antara lain dapat menggendalikan hawa nafsu. Pengendalian hawa nafsu tidak berarti menahan hawa nafsu dari kesenangan duniawi dan sepenuhnya hanya memikirkan akherat, tetapi membimbingnya melalui iman dan takwa. Iman kaitannya dengan Tuhan, dan takwa penyesuaian tindakannya dengan aturan Tuhan.

     Wujud nilai etika menjauhi perbuatan buruk juga terdapat dalam penggalan gatra Tembang Pocung:

    aywa pisan karya, sak serik sameng dumadi

    terjemahan:

    jangan sekali-kali bertindak, iri dengki dengan sesama.

    Sikap dan perilaku dengki adalah watak tidak senang jika orang lain mendapatkan kenikmatan, dan sebaliknya bahagia apabila orang lain mendapat celaka. Sikap dengki lebih berbahaya lagi jika “dibumbui”  dengan sikap jail-methakil. Jail yaitu perbuatan yang gemar berbuat tidak baik terhadap orang lain sedangkan methakil adalah niat untuk mencelakakan orang lain. Oleh sebab itu anjuran dalam sepenggal Sekar Pocung di atas sebaiknya diindahkan oleh semua orang agar kerukunan hidup terjaga.
  7. Mawas Diri

    Wujud nilai etika mawas diri terdapat dalam Sekar Kinanthi dalam 1 baris 2 berikut

    nyuda dhahar lawan guling, aja pijer suka-suka, angganggoa sawetawis, ala wateke wong suka.

    terjemahan: 

    kurangilah makan dan tidur, jangan suka bersenang-senang, lakukanlah sekadar saja, berwatak jelek orang yang berfoya-foya.

    Tembang di atas menunjukkan bahwa mawas diri dilakukan dengan cara prihatin, yaitu mengurangi makan, minum (berpuasa), tidak berfoya-foya, dan hidup bersahaja (sak madya). Makan dan tidur adalah kenikmatan hidup. Oleh sebab itu sebagai kenikmatan maka, makan dan tidur yang berlebihan dapat mengakibatkan manusia lupa akan tujuan hidup. Oleh sebab itu, agar manusia selalu dalam kontrol diri tidak tergoda pada nafsu-nafsu buruk, perlu untuk laku prihatin, termasuk dalam makan dan tidur.
  8. Berhati-hati dalam bicara

    Ungkapan Jawa yang menyatakan “ajining dhiri dumunung ana kedaling lathi”. Artinya, diri manusia akan dihargai dan dihormati orang lain karena kata-kata yang diucapkan dirinya. Ungkapan tersebut rasanya sangat pas dengan ungkapan “aja mung bisa waton omong nanging omonga mawa wewatonan”. Janganlah hanya dapat sembarang bicara tetapi bicaralah dengan aturan/dasar.

       Hal tersebut sesuai dengan etika bicara dalam Sekar Tengahan berikut:

    aja dumeh-dumeh bisa muwus, yen tan pantes ugi, senajan mung sakecap ,yen tan pantes winiraos.

    terjemahan:

    jangan hanya bisa bicara, kalau tidak pantas dibicarakan, meskipun hanya sekecap saja, jikalau tidak pantas dirasakan, janganlah bicara!.

    Ucapan memegang peranan penting dalam kehidupan, karena diyakini harga diri seseorang ditentukan oleh ucapan atau lisan. Ucapan seseorang dapat disadari sebagai cerminan pikiran seseorang. Dengan demikian, manusia hendaknya berusaha berperilaku sesuai dengan apa yang diucapkan, terlebih lagi jika ucapan tersebut berhubungan dengan kepentingan orang lain. Sikap njaga lathi (menjaga ucapan) harus benar-benar mempertimbangkan secara cermat akibat yang akan ditimbulkan oleh ucapan itu, sehingga ucapan bicara plin-plan dapat dihindari. Oleh sebab itu, dalam sekar di atas mengingatkan agar manusia dalam berbicara sekadarnya saja, jika tidak pantas untuk dibicarakan lebih baik janganlah bicara.

Oleh : Yuana Agus Dirgantara, M.Pd.





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai