Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pokok Papan pada Masyarakat Jawa dalam Layang Balewarna




Oleh : Rohmadi, S.Pd., M.Pd.

Rumah bisa juga disebut dengan papan, yang di dalam  istilah lain bisa diartikan dengan area, ruang, letak , tempat tinggal dan penyimpanan. Rumah di masyarakat Jawa adalah merupakan kebutuhan pokok sebagai tempat tinggal yang berarti lingkungan kehidupan manusia di dalam keadaan senang maupun susah, selanjutnya papan digunakan untuk menyesuaikan diri berhubungan dengan keseimbangan yang ada dan menghasilkan keseimbangan (Ronald, 2016:23).

Nilai-nilai arsitektural rumah tradisional Jawa, mempunyai hubungan dengan bab prinsip yang menyatu yaitu, fungsi, konstruksi, dan estetika. Fungsi ini digunakan untuk menggambarkan bahwa rumah perlu tempat yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan menyalurkan kepentingan. Kontruksi mempunyai arti membangun. Dalam masyarakat Jawa proses konstruksi mempunyai hubungan dengan falsafah rasa, karsa, cipta dan karya. Estetika adalah salah satu rasa yang digambarkan dengan salah satu bentuk karya yang mempunyai tujuan menciptakan kebahagian kepada diri pribadi dan orang lain.

Serat Jawa yang membahas tentang arsitektur rumah tradisional Jawa adalah Layang Balewarna. Dalam makalah ini akan membahas dua bab yaitu “keindahan rumah” dan “ kebiasaan bentuk rumah”. Dalam bab keindahan rumah ini, menunjukkan masalah yang sama dengan rumusan masalah  dalam penelitian ini yaitu masalah pokok tentang kebutuhan masyarakat Jawa akan rumah sebagai tempat tinggal. Namun masih banyak masyarakat Jawa yang lebih suka membagun tempat tinggal dengan model arsitektur dari luar negeri terutama dari negara Eropa. Hal ini dapat terlihat dari bagian Layang Balewarna:

“Ing tanah Jawa kene wis akeh omah kang becik, wangun rerenggan lan panatane beda-beda, amarga manut carane lan lumrahing bangsa kang padha ngenggoni, kayata omahe wong Cina, Arab koja, bangsa Eropa lan sapanunggalane. Sanajan wong manca mau dudunung ing tanah Jawa, nanging anggone omah-omah lan pangaturane wis mesthi niru nalika ana ing nagarane. Omah-omah mau yen ditandhing-tandhing wis mesthi akeh kang dhemen niru omahing bangsa Eropa, ora ngemungake pasang rakite omah bae, malah prabotan rerengganing omah sapakarangane pisan ing sabisa-bisa arep nyonto. Amarga kang lumrah omah lan pakarangan kang dienggoni bangsa Eropa iku mesthi katon asri, resik lan pantes.”

Berdasarkan hal diatas, dapat disimpulkan bahwa masih ada sebagian masyarakat Jawa yang lebih suka membangun rumah dengan model arsitektur Eropa dibandingkan model rumah dengan arsitektur Jawa.

1. Keindahan Rumah

Sebenarnya membuat rumah itu tidak perlu besar dan luas, tetapi sebaiknya dibangun sesuai dengan kebutuhan saja, yang paling penting adalah rumah itu harus baik dan indah. Dikatakan indah apabila antara blandar, pangeret, dan tingginya, juga dibandingkan dengan keindahan bentuk rumah. Karena apabila tidak seimbang, maka bentuk rumah tudak lagi baik dan indah. Hal ini sesuai dengan potongan dalam Layang Balewarna di bawah ini:

“Mungguh satemene gawe omah iku ora parlu gedhe-gedhe, diarah-arahna ing sacukupe saoleh-oleh wangune kang becik. Mungguh kang diarani wangun kang becik iku katimbang blandar pangerete sarta dhuwure, apa maneh ditandhing karo bakal wanguning omah” (P2: 1-2 (paragrap 2 ukara kaping 1-2)).

Petikan diatas cocok dengan pendapat dari Frick tentang ukuran dan proporsi pembangunan papan atau tempat tinggal. Menurut Frick (2003: 43) proporsi itu membahas tentang potongan kencana yang menentukan perbandingan jarak pada manusia: dlamakan-wudel-dan mbun-mbunan. Dalam kenyataannya rumah tradisional Jawa mempunyai konten yang pendek, jadi proporsi tersebut tidak cocok dengan perbandingan jarak manusia. Kadangkala manusia apabila akan melewati konten kedah ndhingkluk dan biasanya dibawah dari konten tersebut ada kayu yang terletak melintang, hal itu menyebabkan apabila akan melewati harus mengangkat kaki. Hal ini juga dapat dilihat pada petikan di bawah ini:

“Panggawene lawang padha ciyut-ciyut tur  cendhek iku satemene kurang prayoga. Wong kang mlebu metu ing omah kapeksa ndhingkluk kala-kala banjur kejegluk. Lawang kang kecendheken katon nyalingun tur sajroning omah dadi kurang padhang. Sakiwa tengening lawang menawa palu, prayogane didelehi jendhela kanggo muwuhi padhange sajroning omah lan muwuhi lira-liruning hawa saka ing jaba. Nanging dununging jendhela mau diukur tumiba ing tengah-tengah, aja kongsi menceng. Mangkono uga gedhe ciliking jendhela katimbanga karo lawange. Manawa wuwuhan pepadhang sajroning omah mau ora gelem nganggo jendhela ing pager amarga kuwatir panggawening durjana. Iya kena wuwuhi padhang saka payonan sarana dedeleh kaca.” (P4: 4-11)”

Ismunandar (1987: 72) mengatakan bahwa jendela itu berbeda dengan konten / pintu, jendela dipasang seimbang dengan disebelah kanan dan sebelah kiri konten/pintu, seperti konten/pintu ada yang bentuknya kupu-tarung/ daun pintunya dua dan ineb-siji / menutup satu, begitu juga dengan jendela. Untuk mengantisipasi supaya rumah bisa terjaga keamanannya, dalam membuat jendela diberi kaca, hal ini dimaksudkan agar rumah lebih aman dari orang yang tidak baik dan suasana rumah tetap terang. Di samping itu , dengan adanya jendela bertujuan agar bisa melihat, memandang keadaan dalam rumah maupun bagian luar rumah.

Rumah-rumah yang berada di daerah pedesaan masih jarang yang memiliki bentuk yang baik atau proporsional. Hal ini dapat dilihat dari bentuknya yang terlalu panjang, atau terlalu pendek, terlalu lebar dan sebagainya. Banyak orang yang tidak berfikir terhadap baik dan baik buruk serta keindahan sebuah rumah. Tetapi berdasarkan perhitungan yang wajar dilaksanakan di pedesaan seperti: ukuran blandar pangeret yang perhitungannya supaya mendapatkan keselamatan dan rejeki yang banyak, banyaknya usuk yang dihitung supaya dalam perhitungannya supaya dapat menuju ke dalam hal-hal yang baik. Apabila perhitungan tersebut benar, maka banyak orang desa yang hidupnya akan mendapatkan kebahagiaan. Namun yang terjadi, perhitungan tersebut tidak bermanfaat dan membuat bangunan rumah menjadi tidak baik.

Adon-adonnya dipasang dengan tepat dan rapat serta tegak supaya tidak mudah miring dan roboh. Pagar rumah dibuat yang kuat, rata dan rapat serta indah saling berhubungan antara pagar yang satu dengan yang lain. Panjang dan tingginya sebuah pagar harus sesuai dengan rumah yang akan diberi pagar. Empyak atau usuk diharapkan dipasang rapat dan agak miring supaya jalannya air dapat lancar. Bab ini bertepatan dengan  pernyataan dari Ismunandar (1987: 81) bahwa usuk adalah pyan atau plafon yang dipasang secara tepat dan rapat. Pembicaraan ini dapat dilihat dari petikan di bawah ini:

“Sawise ngukur blandar pangeret lan cagak-cagake, adon-adoning babalungan digaweya kang trep rapet pamasange kang jejeg dadi ora enggal dhoyong. Pager-pagere saoleh-oleh digawe kang kukuh rata lan rapet gathuke lan pager liyane. Dawa lan dhuwuring pager bisa atrep karo kang arep dipageri. Aja nganti nyambung utawa nembel pamasange empyak utawa usuk, mayate digaweya kang pantes. Yen kendhoyongen lakune banyu kurang santer iku angebot-eboti bageyan ngisor, lan enggal ngrusakake payon. Yen kengadegen iya ora prayoga.” (P3: 1-6)

Kehidupan orang dengan nafas yaitu menghirup udara yang baik, mengendalikan nafsu/amarah yang buruk atau kotor, apabila yang dihirup itu adalah udara yang kotor akan dapat mengakibatkan pernafasan yang pendek. Supaya udara yang kotor yang berada didalam rumah dapat keluar serta mendapatkan pergantian udara yang segar dan baik dari luar. Panasnya matahari juga dibutuhkan di dalam rumah agar sirkulasi udara yang berada di dalam rumah bisa  berganti. Walaupun pergantian udara sudah berjalan dengan baik, namun masih dibutuhkan bermacam-macam tumbuh-tumbuhan yang ditanam baik di dalam pot maupun ditanam langsung di tanah. Tanaman tersebut diharapkan dapat menjadikan lingkungan rumah menjadi lebih teduh, nyaman dan menyegarkan. Selain itu, apabila di depan rumah terdapat berbagai macam tanaman, maka akan tercipta lingkungan yang asri dan teduh. Hal ini dapat menyebabkan seseorang betah berada di dalam ataupun di luar rumah.

2. Kebiasaan Bentuk Rumah

Besar atau kecilnya sebuah rumah terdiri dari sembilan ruangan. Kesembilan ruangan tersebut antara lain tiga ruangan berada pada bagian teras belakang, bagian tiga ruangan berada di bagian teras depan serta tiga ruangan lagi berada di bagian tengah. Dari kesembilan bagian tadi, dua bagian dari tiga bagian ruang tersebut berada di sebelah kanan dan kiri saka guru dijadikan tempat tidur. Satu bagian ruangan di belakang dibuat untuk omah-omah , sedangkan tiga bagian ruang depan diambil lagi untuk ruang makan. Ronald (2016: 31) mengatakan bahwa di dalam rumah Jawa di bagian belakang rumah induk ada salah satu bagian yang terpisah yaitu gadri. Gadri yaitu teras belakang, bagian depan gadri tidak mempunyai tembok dan tidak mempunyai konten atau pintu. Fungsi dari gadri adalah papan atau tempat untuk berkumpul keluarga sebagai tempat makan bersama. Gadri terletak dekat dengan dapur. Bagian yang terpisah dari sebuah rumah induk di bagian depan dinamakan lumbung. Lumbung adalah bagian dari rumah yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan padi (Poerwadarminto, 1939:278).

Di dalam rumah, apabila tidak mempunyai almari untuk menyimpan pakaian, sebaiknya pakaian disimpan dan ditata di kamar tidur. Hal tersebut bertujuan agar terlihat rapi dan tidak acak-acakan. Selain itu, sebaiknya barang-barang seperti cangkul, linggis, sabit dan sebagainya ditempatkan ditempat yang aman, hal ini bertujuan agar tidak membahayakan orang yang lewat. Sedangkan barang yang relatif kecil seperti, gelas, piring, mamgkok dan sebagainya ditempatkan di dalam kotak atau diletakkan di rak. Tempat untuk menjemur pakaian sebaiknya ditempatkan di tempat yang tidak sering digunakan akses orang banyak. Disamping dapat mengganggu perjalanan, juga tidak mengenakkan untuk dipandang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ronald (2016: 3) bahwa fungsi dalam menyimpan barang disebut peran, karena orang atau manusia membutuhkan rumah atau papan untuk menyimpan barang-barang supaya aman. Hal ini juga sesuai dengan petikan serat dibawah ini:

“Manawa ora duwe lemari kanggo wadhah sandhangan iya becik uga sandhangane dideleh ing paturon, angger ditata lan diprenahake kang bener. Manawa ciyut ora ana alangane padha mangan ana ing amben mau, anggere sarampunge mangan diresiki. Ora kurang wong padesan kang duwe akal, andeleh piranti ana ing langitan utawa ing para, iku luwih prayoga, jangji panggawene para mau kukuh lan prenah. Digae nyimpen pacul, linggis, arit lan sapanunggalane. Barang kang cilik-cilik arupa gelas, tempolong, erek lan liya-liyane kena kapapanake ing pager sarana kas utawa kothakan.” (P2: 5-9)

Sebisa mungkin segala sesuatu yang ada di dalam rumah, ditata dengan rapi dan tertib. Dibedakan tempat penyimpanan antara barang yang berharga, barang yang mahal, barang yang tidak pantas dilihat orang lain. Selain itu, hal penting yang wajib dimengerti adalah petingnya menjaga kebersihan rumah. Oleh sebab itu, kita harus selalu membersikan rumah/papan agar terlihat bersih, rapi dan sehat. Selain rumah, lingkungan luar rumah dari halaman sampai  dengan pagar dibersihkan. Akan lebih baik, apabila pagar dicat agar tampak lebih indah dan rapi serta terlihat terang. Apabila semua bagian rumah sudah tertata rapi dan bersih maka akan tercipta perasaan yang nyaman, dan akan tercipta lingkungan yang sehat. Hal ini sesuai dengan petikan serat di bawah ini:

“Sapa-sapa kang manggon ing padunungan kang resik, wis mesthi jenjem lungguhe, seneng atine, amarga pandelenge sarwa juwera, pikire lega, kabeh mau amuwuhi seger kuwarasan. Sumurupa tuwuh ing lalara ing awak iku meh kabeh marga saka reged. Ana kang saka regeding pangane, saka regeding awa, regeding panggonan lan regeding sandhangan, apa dene regeding awak sapanunggalane tular tumular anggepok paranganing anggota utawa jerowan, banjur nandhang lara. Samongsa omah saisine wis resik, dadi kang ngenggoni iya kulina lan dhemen resik. Pangane, panganggone, padunungane dalah awake mesthi manuh resik, tangeh bisane gampang kambah ing lalara. Urut-urutane manawa wis dhemen temenan marang resik, atine lan bubudene kang reged orasusah diparentah, iya dadi budi resik.” (P3: 9-14)

Di dalam masyarakat Jawa, ketika akan membangun sebuah rumah harus berdasarkan perhitungan yang tepat dan akurat. Apabila dalam membuat rumah atau tempat tinggal tidak menggunakan perhitungan yang tepat dan akurat maka tidak akan dihasilkan rumah yang sesuai dengan arsitektur tradisional Jawa. Dengan perhitungan yang tepat dan akurat, akan terbentuk suatu tempat tinggal yang aman, rapi, dan indah. Hal ini dapat menyebabkan seluruh penghuni rumah merasa betah tinggal dirumah tersebut. Di samping itu, apabila pembuatan rumah sesuai dengan perhitungan arsitektur tradisional Jawa, maka orang yang melihatnya juga akan merasa senang.

Daftar Pustaka

Frick, Heinz. 2003. Arsitektur dan Lingkungan. Yogyakarta:  Penerbit Kanisius.

Ismunandar, R. 1987. Joglo Arsitektur Rumah Tradisional Jawa. Semarang:  Effhar Offset.

Kaplan, David dan Robert A. Manners. 2002. Teori Budaya. Yogyakata: Pustaka Pelajar.

Poerwadarminta. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia:  J. B. Wolter Uitgevers Maatschappij.

Ronald, Arya. 2016. Pengembangan Arsitektur Rumah Jawa. Yogyalarta:  Cahaya Atma Pustaka.





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai

Sejarah Wayang Kulit Purwa

Sesuai dengan namanya, wayang kulit terbuat dari kulit binatang (kerbau, lembu atau kambing). Wayang kulit dipakai untuk memperagakan Lakon-lakon dari Babad Purwo yaitu....

Baca Selengkapnya