Motif Tumbuhan Pada Ukiran Gaya Yogyakarta




Oleh: A.Dinna Fathimah Al Fajri, S.S. (SMK N 5 Yogyakarta)

Arsitektur adalah proses dan produk yang dihasilkakn dari beberapa proses diantaranya adalah perencanaan, perancangan, dan kontruksi bangunan atau struktur lainnya. Karya yang dihasilkan biasanya diaplikasikan dalam bentuk bangunan atau struktur yang dianggap sebagai symbol kultural dan karya seni. Salah satu yang menarik dari arsitektur yang ada di Yogyakarta adalah adanya berbagai macam motif yang tentunya tidak lepas dari makna, arti, dan filosofinya.

Di Yogyakarta sendiri, motif ukir pada kayu biasanya banyak mengambil dari motif hewan maupun tumbuh-tumbuhan sesuai dengan fungsinya. Motif hewan yang sering digunakan adalah Garuda, Kidang, Burung Kinara Kinari, Naga, atau Buto. Motif hewan yang sangat jarang digunankan adalah motif hewan-hewan laut/ ikan. Adapun motif tumbuhan yang sering digunakan adalah motif tumbuhan yang menjalar ini biasanya diterapkan pula pada perak dan lainnya.

(Motif tanaman menjalar, sumber foto: dokumen pribadi Triyanto, guru SMKN 5 Yogyakarta)

Ciri lain dari motif ukir bentuk tanaman menjalar ini adalah warna dari bentuk bunganya, yaitu merah. Adapun warna dari ukiran yang menjadi ciri khas gaya Yogyakarta diantaranya adalah warna hijau, emas, kuning, dan merah, disesuaikan dengan pemakaiannya. Pewarnaan tersebut tentunya memakai cat-cat khusus yang dikhususkan atau disesuaikan dengan media ukirnya. Gaya ukir tersebut biasanya digunakan pada berbagai macam benda dan dekorasi bangunan, contohnya pada alat musik, dekorasi gapura, tiang/cagak,cermin, dan lain sebagainya.

Salah satu contoh motif tanaman lainnya adalah motif yang terdapat pada keraton Yogyakarta.

(Keraton yogyakarta Sumber:https://id.wikipedia.org/)

Motif yang terdapat pada bangunan keraton biasanya diambil dari tanaman dan buah-buahan, contohnya yang terdapat pada atas kedua tiang, yaitu motif daun papaya (kates) dan ada buah pepayanya yang berwarna hijau dikombinasikan dengan warna kuning. Ukiran-ukiran unik tersebut tentunya melambangkan keharmonisan dan kemakmuran suatu tempat, terutama negara atau kerajaan.

Motif ukir yang mengambil bentuk dari tumbuhan tidak hanya gaya Yigyakarta saja, melainkan ada pula yang berasal dari jaman Majapahit, yaitu terkenal dengan bentuk buah nanas sebagai pusatnya di tengah-tengah ukir-ukiran daun-daunnya.Nanas disini berbentuk bulatan dan cembung. Sementara daun-daunnya berukuran besar, berbentuk seperti tanda tanya melingkar, meliliki renda-renda kecil seperti batik di pinggirnya.

Motif Mataram berasal dari motif pakian wayang kulit. Motif ini menggambarkan pohon yang berdiri tegak menjulang dan lancip, serta diikuti dengan ranting besar melengkung, bahkan ukurannya lebih besar dari pohonnya. Kadang kala simetris, ada juga yang tidak beraturan rantingnya. Banyak juga yang ditambahkan daun-daunnya yang sedang akan berkembang di sisi kiri dan kanan.

(Contoh dekorasi pilar masjid dengan motif ukir. Sumber: dokumen pribadi Triyanto, Guru SMKN 5 Yogyakarta)

 

Pada dekorasi pilar masjid tersebut bisa disebut sebagai motif kreasi, karena si pengukir menyatukan dua gaya atau motif ukiran pada satu bidang yang kemudian dirangkai menjadi sebuah karya seni dekorasi, yaitu motif ukir gaya Yogyakarta dikombinasikan dengan motif ukir gaya Mataram dan klasik Majapahit. Beberapa ciri yang cukup terlihat adalah adanya lengkukan-lengkukan pada ujung motifnya.

Seni ukir jaman sekarang memang harus menyesuaikan dengan perkembangan jaman, tidak hanya pada hal-hal klasik saja yang bisa mendapatkan motif ukiran, akan tetapi banyak juga benda-benda dan dekorasi yang saat ini mulai digemari oleh masyarakat. Seperti pada dekorasi pernikahan, biasanya banyak yang menggunakan gebyok sebagai dekorasi panggung mereka. Selain itu trend pintu rumah dan jendela dari kayu yang didekor dengan ukiran-ukiran juga mulai banyak digandrungi oleh orang-orang karena adanya kesan klasik dan elegan.

Sebuah ukiran yang bernuansa seni, yang hingga kini ukirannya masih terlihat begitu berkelas dan bercita rasa tinggi. Ukiran hanya ukiran, tapi ukiran akan bernilai jika ia mampu menempati sebuah nilai yang dianggap tinggi. Jelas terlihat sekumpulan alat musik kuno  masih tertata rapi dan berbunyi nyaring riang, dibawah sebuah joglo ditengah–tengah Kraton Yogyakarta.

Bentuk krawingan merupakan bentuk ukiran dari daunnya dimana memiliki kekhasan tersendiri yaitu bentuk bentuk lipatan daun. Unsur yang terdapat pada motif Yogyakarta yaitu:

  1. Batang Pokok
    Batang pokoknya memiliki bentuk relungdengan ukiran berbentuk pilin
  2. Dau
    Daunnya memiliki motif tumbuh disetiap batang pokoknya. Memiliki bentuk yang bulat dengan bentuk krawing dengan ciri khas memiliki lipatan daun.
  3. Bunga 
    Bentuk bulat yang dikelilingi kelopak dan daun merupakan bentuk dari bunga motif ukir Yogyakarta, terdapat pecahan sisik ikan didalam bunga.
  4. Pecahan 
    Pecahan motifnya biasa digunakan untuk mengisi daun agar memiliki nuansa yang lebih indah.

Ciri-ciri pada motif Yogyakarta :

  • Pada ujung relung terdapat ceplok
  • Terdapat lipatan daun

Saat ini perkembangan kerajinan dalam bidang ukiran sudah banyak berkembang di Jogja, dan juga sudah merambah ke batu ukir, salah satunya adalah batu paras ukir yang mudah perkembang dengan pesat. Pengembangan Ukiran menjadi salah satu usaha dalam pengembangan budaya nusantara yang harus selalu dijaga dan dirawat.

Sumber:

https://batuukirjogja.com/motif-ukir-yogyakarta-batu-paras-ukir/

https://www.damaruta.com/2015/03/motif-ukir-tumbuhan-hal-24.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Ngayogyakarta_Hadiningrat





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai

Tembang Dhandanggula

Tembang Dhandanggula menggambarkan keadaan kehidupan manusia yang telah mencapai tahap kemapanan sosial, kesejahteraan telah tercapai dan telah menikmati masa hidupnya.

Aturan persajakan :

  1. Guru gatra :....

    Baca Selengkapnya