11 Permainan Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta



Mengenal tentang beberapa aspek dalam budaya Jawa yang mungkin sudah mulai banyak dilupakan oleh sebagian khalayak umum dan masyakarat saat ini. Salah satunya yaitu permainan tradisional di tanah Jawa, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dimana permainan tradisional saat ini sudah mulai terlupakan khususnya dikalangan milenial saat ini. Berikut ini akan kita bahas satu per satu beberapa permainan tradisional yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta yang kami kutip dari artikel Dinas Kebudaya Daerah Istimewa Yogyakarta :

1. Adu kemiri

Papan adu kemiri, berbentuk seperti dhakon terbuat dari kayu dan ditengahnya terdapat sebuah cekungan tempat kemiri yang akan diadu. Papan kemiri, terbuat dari kayu berbentuk segi empat yang diatasnya terdapat lubang-lubang kecil tempat meletakkan kemiri berjumlah 72 buah. Papan tersebut disangga 4 buah kaki. Gandhen, alat untuk memukul kemiri yang diadu berbentuk gada atau tongkat biasa. Pada umumnya permainan ini dilakukan oleh pria dewasa dengan jumlah pemain minimal dua orang. Buah kemiri ditaruh di tempat kemiri. Kemudian kemiri yang akan diadu di tempatkan dalam lubang adu dan ditutup sebilah kayu yang ujungnya dikunci dengan panthek kayu. Kemiri yang ditutup tersebut selanjutnya dipukul dengan gandhen sekeras mungkin agar pecah. Pemenang adalah pemain yang memiliki kemiri yang utuh setelah proses pemukulan tersebut berlangsung. Fungsi : adu kemiri dimainkan untuk mengisi waktu senggang.

2. Bekel

Bekel, terbuat dari bahan kuningan berwarna kuning atau dari bahan timbal berwarna putih. Bekel berbentuk segi empat dengan rupa bidang yang berbeda. Bidang pet, bidang dengan cekungan kecil di tengah; bidang roh, berbentuk seperti parit; bidang klat, polos tanpa hiasan dan bidang es, bidang datar berhias dengan 5 buah titik. Jumlah minimal adalah 4 buah. Bola bekel adalah sebuah bola terbuat dari karet dan mempunyai besar seukuran bola pingpong. Jumlah pemain bekel  dapat mencapai 4 orang yang biasanya semuanya anak perempuan. Mula-mula para pemain menentukan urutan pemain dengan cara hompimpah atau pingsut. Selanjutnya bekel dan bolanya berada di tangan kanan pemain. Keempat bekel digenggam dengan tiga jari, sementara bola dijepit oleh ibu jari dan jari tengah. Bola dilempar ke atas dijatuhkan ke lantai yang datar. Selama bola memantul di udara pemain berusaha mengatur bekel agar tampak bidang pet semuanya. Pemain melempar bola lagi dan kemudian mengambil satu persatu bekel. Langkah selanjutnya pemain mengambil dua bekel dan seterusnya. Langkah tersebut disebut : pet ji, pet ro, pet lu, pet byuk. Hal yang sama juga dilakukan pada bidang yang lain. Pengambilan bekel tidak boleh menyentuh bekel lainnya atau bola menyentuh tanah dua kali dalam pengambilan bekel. Kondisi seperti ini disebut mati dan pemain lain mendapat giliran memainkan bekel. Fungsi : bekel dimainkan untuk mengisi waktu senggang.

3. Benthik

Benthong, sebuah tongkat kayu berukuran sekitar 40 cm yang berfungsi sebagai alat pengungkit (penguthat), pelempar (tamplek) dan pengukur jarak. Janak, sebuah tongkat kayu berukuran sekitar 15 cm yang berfungsi sebagai alat yang diungkit dari lubang permainan (luwokan). Arena bermain Para pemain biasanya anak laki-laki berjumlah genap yang terbagi menjadi dua kelompok yang urutan mainnya ditentukan lewat pingsut atau hompimpah. Mula-mula lubang (luwokan) harus dipersiapkan di atas tanah. Permainan ini terbagi menjadi tiga tahap, yaitu uthat, ilar dan patil lele, yang pada prinsipnya adalah janak diletakan diatas lubang kemudian benthong dipakai untuk menjungkit janak sejauh mungkin. Janak yang terlempar diperebutkan dua kelompok, kelompok yang main berusaha menjauhkan janak sementara kelompok jaga berusaha mendekatkan janak ke arah lubang. Jika jarak janak lebih panjang dari dari benthong, maka kelompok yang bermain mendapatkan nilai. Fungsi : benthic dimainkan untuk mengisi waktu senggang.

4. Dhakon

Dhakon, yaitu kayu yang dibentuk memanjang menyerupai lesung, bidang atasnya diberi lubang-lubang berjajar (sawah) dengan jumlah tertentu dan di masing-masing ujungnya terdapat lubang besar (lumbung). Biji-bijian, misalnya biji asam (klungsu), biji sawo (kecik) atau kerikil/batu kecil. Jumlah biji sesuai dengan jumlah sawah, misalnya terdapat 7 pasang sawah, maka kecik berjumlah 7 x 7 x 2 = 98 buah.   Permainan dilakukan oleh dua orang yang duduk berhadapan sesuai dengan arah lubang dhakon. Dhakon diletakkan di tengah kedua pemain. Permainan ini dilakukan oleh anak perempuan, tetapi bisa pula dimainkan oleh anak laki-laki. Lubang dhakon kedua belah pihak diisi oleh biji. Sebelum permainan diadakan perjanjian dahulu, apabila pemain yang sedang menjalankan menang, maka ia memperoleh sawah dan kemudian isi lubang itu dimasukan ke dalam lumbung. Jika ada biji yang jatuh ke sawah yang kosong dan milik sendiri maka disebut dengan andhok. Jika di hadapan sawah kosong ini terdapat sawah lawan yang berisi maka isi sawah tersebut dapat dimasukan ke lumbung pemain yang sedang jalan, cara ini disebut bedhilan. Perjanjian lain adalah cara gotongan atau pikulan, yaitu apabila gandhok di sawah musuh, sedangkan sawah di kanan dan kirinya berisi, maka isi sawah tersebut menjadi milik pemenang. Demikianlah pemain menjalankan bijinya bergantian sampai habis dan pemenang adalah yang lumbungnya paling banyak. Fungsi : dhakon dimainkan untuk mengisi waktu senggang.

5. Egrang

Egrang, yang terbuat dari bambu dengan ukuran panjang sekitar 1,5 sampai 3 meter. Kemudian dari pangkal bawah setinggi 30-150 cm ditempatkan pancadan (tempat kaki berpijak) sepanjang kira-kira 30 cm. Arena bermain Permainan ini memerlukan ketrampilan terutama keseimbangan badan yang prima. Untuk menaiki egrang, mula-mula memegang kedua bambu dengan pancadan mengarah ke arah pemain. Sebagai bantuan agar memudahkan dalam menaiki egrang maka dapat dicari suatu tempat yang agak tinggi sehingga dapat mencapai pancadan dengan mudah. Selanjutnya pemain mencoba untuk melangkah seperti layaknya orang berjalan kaki. Permainan egrang dapat dilakukan oleh siapa saja baik laki-laki maupun wanita dari berbagai umur sesuai dengan besar dan tinggi egrang yang dibuat. Fungsi : egrang dimainkan untuk mengisi  waktu senggang.

6. Gasing

Gasing yang terbuat dari kayu (pohon waru terbaik untuk menghasilkan suara yang keras). Bentuk gasing berupa kerucut yang kadang dibagian tengahnya diberi paku sebagai poros as pada waktu berputar  Uwed, yaitu tali pemutar gasing yang terbuat dari rami, atau sobekan kain sepanjang 1 meter. Arena bermain Pada umumnya gasingan dimainkan oleh anak laki-laki karena permainan ini memerlukan kekuatan dan keberanian. Gasingan dapat berputar karena ditarik dan dilemparkan dengan seutas tali (uwed). Mula-mula tali dililitkan pada badan gasing sampai separuh badan, kemudian dengan mengerahkan kekuatan dilempar atau dibanting di tanah maka gasing tersebut akan berputar dan menimbulkan suara mendengung. Fungsi : gasing dimainkan untuk mengisi waktu senggang

7. Layang-layang

Layang-layang, yang rangkanya terbuat dari bilah bambu dan diikat dengan benang dan diberi lapisan kertas. Bentuk dan warnanya bermacam-macam tergantung selera pembuatnya. Benang, yang berfungsi untuk menaikkan layangan ke udara. Besar kecilnya benang disesuaikan dengan beban layangan. Terdapat jenis benang gelasan, yaitu benang yang dilapisi oleh serbuk kaca untuk acara adu layangan. Bendrong, yaitu tempat untuk menggulung benang layangan. Bahannya berupa kaleng bekas yang kedua tutupnya dibuang dan kemudian dilapisi kertas agar tidak melukai tangan. Arena/tempat terbuka layang-layang pada umumnya dimainkan oleh laki-laki dari berbagai kalangan usia. Satu layangan memerlukan tiga orang pemain, yaitu yang menaikkan (ngulukke), seorang yang membawa bendrong, dan seorang yang membantu menaikkan layangan (ngulur). Apabila layangan telah mencapai sekitar 100 m maka biasanya berlangsung aduan.

Cara memainkan layangan adalah dengan mengulur dan menarik sehingga ada istilah nyekek, nindih dan numpang yang merupakan bagian dari strategi dalam mengalahkan lawannya. Jika layangan yang dibuat adalah layangan hias, maka biasanya layangan tersebut tidak dpakai dalam aduan layangan. Pemain hanya menikmati keindahan dan cara memainkannya dengan gerakan ke kiri dan kanan (nyiruk) dan gerakan meliuk (nggoling). Fungsi : layang-layang  dimainkan untuk mengisi waktu senggang dan fungsi sosial (dapat memperluas hubungan)

8. Nini Thowong

Boneka berwujud orang yang terbuat dari tempurung kelapa dan rangka dari bambu, diberi pakaian (kain, kebaya, selendang sampur, ikat pinggang/stagen), bunga hiasan kepala yang berasal dari kuburan. Sesaji: kembang abon-abon, berupa bunga kenanga, mawar, kanthil, kinang, boreh, minyak wangi, kemenyan, sekeping uang logam dan setangkep pisang raja. Arena bermain Permainan ini dimainkan oleh anak perempuan yang berjumlah 4 orang yang berperan memegang kaki dan badan boneka. Apabila terdapat pemain tambahan, maka pemain lain memegang selendang di sebelah kiri dan kanan. Selanjutnya boneka dibawa ke kuburan pada waktu matahari tenggelam (surup) dengan disertai oleh seorang pawang sambil membawa sesaji. Sampai di kuburan dilakukan pembakaran kemenyan dan pembacaan mantera agar roh bayi yang meninggal dapat memasuki boneka dan diajak bermain di desa. Roh anak tersebut dikenal dengan sebutan bocah bajang. Setelah nini thowong diisi roh kemudian digendong menuju desa dengan iringan lagu boyong. Sesampai di arena permainan disambut dengan, selanjutnya nini thowong dibangkitkan dengan lagu ilir-ilir dan dilanjutkan dengan lagu gembira sampai selesai. Nama lain : Nini Thowok, Nini Endhok, Nini Dhiwut, Cowongan Permainan ini berfungsi sosial magis, dan di desa Grudo, Pundong dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

9. Paseran

Paser, yang berupa anak panah terbuat dari kawat baja. Paser berukuran sekitar 18-22,5 cm. Pada bagian belakang terdapat daun yang terbuat dari kertas warna-warni. Orang-orangan yang digantung pada sebuah kawat yang dibentangkan pada dua buah tiang. Arena bermain   Orang-orangan diletakkan dengan jarak sekitar 10 meter dari pemain. Para pemain berduduk sila dan kemudian membidik dan melemparkan paser ke sasaran. Sasaran pada boneka orang-orangan adalah bagian kepala, leher, dada, kendil dan bagian bawah. Bagian kepala memiliki nilai tertinggi. Para pemain umunya adalah laki-laki. Biasanya paseran ini dilakukan pada waktu senggang di sore hari. Fungsi : paser dimainkan untuk mengisi waktu senggang

10. Thuprok-thuprok

Thuprok-thuprok, yang terbuat dari tempurung kelapa yang dibelah dua bagian dan dilubangi serta dihubungkan dengan seutas tali sepanjang 2 meter. Arena bermain yang datar. Permainan ini dimainkan sendiri oleh seorang pemain, jadi tidak dilombakan. Permainan dilakukan oleh anak laki-laki maupun perempuan dengan jumlah pemain yang tidak menentu. Thuprok-thuprok memerlukan arena yang agak luas dan datar sebab pemain beresiko untuk jatuh. Cara menggunakan alat ini adalah dengan cara menginjak tempurung kelapa tersebut dan kemudian melangkah seperti orang berjalan sehingga menimbulkan bunyi seperti langkah kuda. Fungsi tali adalah untuk menjaga keseimbangan dan kemudahan dalam melangkah. Fungsi : thuprok-thuprok dimainkan untuk mengisi waktu senggang.

11. Watu Gatheng

Batu kerikil yang berukuran sama dan rata berjumlah 5 buah. Arena berukuran 0,5 x 0,5 m diatas tanah atau di lantai. Permainan ini dilakukan oleh 4 orang. Mereka duduk mengitari tempat permainan. Kemudian urutan pemain ditentukan oleh hompimpah atau pingsut. Pemain yang menang melakukan permainan (saku). Mula-mula kelima watu gatheng digenggam di tangan kanan, salah satu batu yang digenggam dilempar ke atas sambil mengambil empat batu yang bertebaran di tanah sebelum batu yang dilempar ke atas itu jatuh menyentuh tanah. Jika batu gagal diambil semua atau menyenggolnya maka pemain berada dalam posisi mati dan digantikan oleh pemain lainnya. Langkah kedua disebut garo, pemain melempar sebuah batu dan pemain mengambil dua buah batu bersamaan. Apabila gagal berarti mati tetapi apabila berhasil maka permainan diteruskan. Tahap selanjutnya adalah galu, gapuk, umbul, garuk, dulit, dan sawah. Fungsi : watu gatheng dimainkan untuk mengisi  waktu senggan.





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai

Cerita Mahabarata

Kisah Mahabharata diawali dengan pertemuan Raja Duswanta dengan Sakuntala. Raja Duswanta adalah seorang raja besar dari Chandrawangsa keturunan Yayati, menikahi Sakuntala dari pertapaan....

Baca Selengkapnya