Tata Krama Jawa dalam Keseharian




oleh:  Slamet Nugroho

Orang Jawa selalu mengedepankan kenyamanan orang-orang yang ada disekitarnya ketika berbicara, bersikap, berperilaku, maupun bertindak.  Maka muncul idiom Jawa yang mengatakan Karyenak tyasing sasama (membuat nyaman di hati sesamanya). Ucapan, sikap, perilaku, ataupun tindakan yang selalu menjaga kenyamanan orang lain ini kemudian dikenal dengan tata krama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia tata krama adalah adat sopan santun (https://www.kbbi.web.id). Sedangkan kata sopan dan santun ini adalah dua kata yang memiliki arti kata sama yaitu beradab di dalam tingkah laku, tutur kata, pakaian dan sebagainya. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa tata krama adalah aturan tentang bagaimana manusia menjalani hidup yang baik dari tutur kata, perilaku, pakaian dan segala hal yang dilakukannya.

Dalam berinteraksi dengan orang lain atau di dalam pergaulan orang Jawa mengenal istilah suba sita. Dalam Bausastra Djawa tulisan Poerwa Darminta(1939: 75) kata subasita diartikan tata kramaning pasrawungan(tata krama di dalam pergaulan). Di era sekarang ini banyak sekali orang Jawa di dalam menjalani hidupnya khususnya dalam pergaulan mengalami pergeseran atau perubahan. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya kurangnya proses pewarisan dari generasi sebelumnya dan pengaruh dari tata krama yang berasal dari budaya asing. Tidak bisa dipungkiri bahwa tata pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat selalu mengalami perubahan dan pergeseran sesuai dengan perubahan jaman. Tata pergaulan bagi masyarakat sering kali dikesampingkan dalam pewarisannya, sehingga tidak terasa adanya perubahan ataupun pergeseran. Oleh karena itu perlu adanya pewarisan tata pergaulan dari generasi ke genarasi. Dalam tulisan ini akan dipaparkan beberapa tata pergaulan keseharian orang Jawa yang berlaku di era sebelum kemerdekaan dan masih sangat dimungkinkan relevan dengan kehidupan di era kini.

  1. Membersihkan gigi
    Di masa sekarang ini sudah tidak jamannya lagi ketika menemukan gigi yang terlihat kotor berwarna hitam ataupun kuning. Agar tidak menyebabkan orang lain merasa jijik maka sebelum bertemu dengan orang lain lebih baik membersihkan terlebih dahulu dengan menggosok gigi dan berkumur.

  2. Menahan kantuk
    Kantuk adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dikendalikan, karena obat dari kantuk hanyalah dengan tidur. Untuk itu bagi yang merasakan kantuk ketika mengahadiri sebuah pertemuan atau acara-acara yang menghadirkan banyak orang jika sudah berusaha dengan berbagai cara masih tetap merasakan kantuk lebih baik memohon ijin untuk mendahului pulang.

  3. Buang angin atau kentut.
    Jika ada teman yang mengeluarkan kentut lebih baik alihkan perhatian dari teman lain agar tidak membahas suara kentut tadi dengan berbicara apa saja yang dapat mengalihkan perhatian.  Hal tersebut bertujuan untuk menutupi rasa malu dari teman yang mengeluarkan kentut tadi, apalagi yang mengeluarkan kentut tersebut adalah seorang perempuan. Apabila diri sendiri yang merasa akan mengeluarkan kentut lebih baik memohon ijin terlebih dahulu mencari tempat yang tidak banyak orang.

  4. Buang air besar dan kecil.
    Orang yang merasakan akan buang air besar tidak ada cara untuk menahan, meskipun bisa menahan tetapi hanya untuk beberapa waktu saja, dan itupun ada resiko yang harus di rasakan yaitu sakit perut dan yang lebih parah jika sudah tidak tahan akan bisa keluar di tempat. Oleh karena itu bagi siapapun ketika bertamu merasakan dirinya harus buang air besar lebih baik berkata jujur mohon ijin untuk buang air besar. Demikian pula jika merasa ingin buang air kecil. Bagi orang Jawa memohon ijin untuk buang air besar ataupun buang air kecil dapat menggunakan kalimat-kalimat yang memperhalus agar tidak terasa tabu. beberapa contoh kalimat yang dapat digunakan untuk memohon ijin buang air besar ataupun buang air kecil.
    a. ketika bertamu
    Nuwun sewu bapak (menyesuaikan siapa tuan rumahnya), kepareng nyuwun idi palilah badhe ndherek dhateng wingking.
    b. ketika di sekolah (dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas)
    Nuwun sewu bapak/ibu, menawi kepareng kula nyuwun idi palilah panjenengan, kula badhe dhateng wingking.”

  5. Bertegur sapa
    Bagi orang yang belum mengenal budaya Jawa akan beranggapan bahwa orang Jawa terlalu ingin tahu atau terlalu mengurusi orang lain. Hal tersebut jika orang Jawa bertemu dengan orang yang sudah dikenal disuatu tempat. Contoh jika bertemu di pasar sedang berbelanja. Meskipun jika bertemu di pasar itu kemungkinan besarnya berbelanja, tetapi dalam budaya Jawa masih manyapa dengan menanyakan “Ehh…, ibu, badhe blanja ibu?   atau “Badhe mundhut menapa ibu?”
    Bertegur sapa adalah salah satu budaya Jawa yang menunjukkan bahwa orang Jawa sangat peduli kepada orang lain. Bahkan jika di perjalanan berdampingan dengan orang yang belum dikenalpun diseyigyakan untuk bertegur sapa dengan menyakan tujuan kemana atau dari mana.

  6. Meludah
    Meludah harus pada saat dan tempat yang tepat. Bagi orang Jawa di masa lampau ketika masih banyak mengunyah sirih ada tempat atau wadhah yang digunakan khusus untuk meludah. Di jaman sekarang orang Jawa sudah banyak yang tidak mengunyah sirih, maka di dalam meludah juga harus mencari tempat tersembunyi dan tidak diludahkan di sembarang tempat. Harus dihindari meludah di hadapan orang lain, karena hal tersebut sama halnya merendahkan martabat orang tersebut.

  7. Menguap (angob)
    Ketika menemui tamu yang tidak diinginkan untuk berlama-lama tuan rumah dapat dengan menguap, hal ini menunjukkan bahwa tuan rumah sudah tidak nyaman lagi untuk menemui tamu tersebut. Untuk itu diusahakan semaksimal mungkin ketika sedang kehadiran tamu untuk tidak menguap, jika terpaksa menguap harus diusahakan ditutup dan tamu tidak memperhatikan ketika menguap tadi. Sedangkan untuk yang bertamu harus menahan untuk tidak menguap, karena menguap ketika bertamu dalam budaya Jawa itu tidak sopan.

  8. Marah
    Kemarahan adalah sesuatu yang sangat wajar bagi semua orang, namun demikian sebisa mungkin seseorang harus bisa menahan kemarahannya ketika dalam keadaan tertentu. Ketika ada seseorang yang bertamu maka sebaiknya tuan rumah harus menahan amarahnya, karena jika menemui tamu dalam keadaan marah akan menyebabkan tamu tersebut tidak nyaman.
    Jika menemui seseorang yang sedang memarahi anaknya atau muridnya sebaiknya tidak turut campur ikut memarahi ataupun membela anak yang baru dimarahi. Hal tersebut jika dilakukan akan mengakibatkan kesalahpahaman.

  9. Berbicara
    Jika berbicara kepada orang yang jaraknya dekat jangan menggunakan volume yang keras. Karena hal ini akan dapat menyinggung perasaan lawan bicara.
    Dalam perbincangan yang serius jangan dilakukan sambal tertawa. Tertawa diperbolehkan tetapi harus melihat suasana.
    Jika berbicara dengan lawan bicara perempuan lebih baik jangan mebicarakan sesuatu yang mengandung kata-kata tabu.
    Jika berbicara di hadapan orang tua lebih baik menghindari pembicaraan yang tidak perlu atau celometan.
    Orang yang memotong pembicaraan adalah tindakan yang tidak sopan. Lebih baik ditunggu terlebih dahulu pembicaraannya agar selesai.

  10. Berbisik-bisik
    Dalam pertemuan diantara banyak orang, tidak diperbolehkan berbisik-bisik dengan teman yang tempat duduknya dekat, sedangkan jika ingin membicarakan sesautu yang rahasia lebih baik memohon ijin untuk mencari tempat yang sepi. Hal tersebut dikaukan untuk menghindari pengiraan orang menggunjing teman lain.

  11. Ceguken
    Ceguken adalah sesuatu yang munculnya tiba-tiba dan tidak bisa dihentikan seketika. Orang yang sedang menderita ceguken ketika berada dalam perjamuan atau acara yang dihadiri banyak orang lebih baik meninggalkan acara sebentar ke suatu tempat yang sepi sampai ceguken itu mereda. Jika sampai beberapa waktu tidak berhenti ceguken lebih baik pulang.

  12. Batuk dan Bersin.
    Tata kramanya orang batuk adalah dengan memalingkan wajah ke kiri dengan meutup mulut (jangan sampai melihat terlihat terbuka).
    Ketika bersin yang harus dilakukan adalah dengan memalingkan wajah ke kiri dan tangan kanan menutupinya.

  13. Berkaitan dengan wajah, mata, hidung, dan telinga dalam menghadiri perjamuan.
    a. Wajah, ketika wajah terlihat berminyak karena keringat jangan sampai diusap dengan tangan karena akan membuat tidak nyaman bagi orang lain yang melihat. Lebihn baik dibersihkan dengan saputangan atau tissue.
    b. Mata, ketika mata tersa ada kotorannya maka jangan dibersihkan hanya dengan tangan, tetapi harus memakai saputangan atau tissue.
    c. Hidung, jika hidung terasa ada kotorannya, lebih dibersihkan dengan menggunakan saputangan dengan tidak terlihat oleh orang lain. Jangan sekali-kali membersihkan kotoran hidung (ngupil) dengan jari tangan dan terlihat jelas orang lain, karena hal tersebut membuat orang yang melihat merassa tidak nyaman. Begitu pula dalam membersihkan ingus.
    d. Telinga, Jangan sekali-kali membersihkan kotoran telinga (curek) dengan jari tangan atau alat yang lain terlihat jelas orang lain, karena hal tersebut membuat orang yang melihat merasa tidak nyaman.

  14. Kuku
    Ada beberapa orang yang memang sengaja untuk memelihara kukunya agar panjang, tetapi bagi orang yang memilhara kukunya panjang seharusnya kuku tersebut dijaga kebersihannya. Kuku yang panjang dan hitam karena kotoran akan mengakibatkan jijik bagi orang yang melihatnya. Maka lebih baik kuku dipotong pendek, sehingga tidak ada kotoran yang menempel.

  15. Garuk-garuk
    Ketika seseorang merasakan gatal dibagian tubuhnya biasanya orang tersebut kemudian menggaruk bagian tubuh yang terasa gatal tadi. Hal tersebut jika dilakukan ketika dalam sebuah pertemuan atau perjamuan tidak sopan. Maka yang harus dilakukan untuk mengatasi gatal tersebut adalah dengan memijit tempat tersebut dari luar pakaian, jangan sampai tangan masuk ke dalam pakaiannya.

  16. Jari jemari
    Dalam menunjukkan sesuatu kepada orang lain jangan sampai menggunakan jari telunjuk, tetapi menggunakan jempol atau ibu jari yang ditegakkan dan mengepalkan keempat jari lainnya. Hal tersebut dilakukan dengan diarahkan ke tempat barang yang ditunjukkan.
    Sangat dilarang keras menunjukkan suatu barang dengan kaki yang diarahkan ke barang tersebut, hal ini tergolong sangat tidak sopan.

  17. Tangan
    Ketika berkomunikasi dengan siapapun jangan dibiasakan tangan selalu digerakkan (suraweyan) karena hal tersebut kurang sopan.

  18. Mengenakan kaca mata.
    Mengenakan kacamata merupakan kebutuhan bagi mereka yang bermasalah pada penglihatannya. Bagi mereka yang tidak bermasalah dengan matanya jika mengenakan kacamata itu termasuk tidak sopan, terlebih kacamata yang digunakan adalah kacamata hitam. Terkecuali jika dalam melakukan perjalanan untuk menghindari debu atau teriknya sinar matahari.

  19. Mengenakan topi
    Mengenakan topi ketika memasuki ruangan khususnya rumah orang lain termasuk perbuatan yang kurang sopan. Oleh karena itu jika memasuki rumah lebih baik topi dilepas. Ketika bertemu orang lain yang dihormati lebih baik topi dilepas dan bawa dengan tangan. Jika bertemu dengan orang lain yang dihormati dan sama-sama mengenakan topi maka, dlam melepas topi menunggu orang tersebut melepas setelah itu baru mengikuti melepas topi.

  20. Makan
    Ketika makan jangan sampai terdengar suara kecapnya. Orang yang mengunyah makanannya terdengar kecap berarti mulutnya terbuka. Hal itu mengakibatkan makanan yang ada di dalam mulut terlihat orang lain yang mengakibatkan orang lain merasa jijik.
    Dalam perjamuan jangan sampai mengambil lauk yang tempatnya jauh dari tempat duduknya, kecuali diambilkan atau didekatkan oleh orang lain. Jika sudah didekatkan mengambilnyapun jangan terlalu banyak. Jangan sampai makan lauk (khususnya daging) dengan dua tangan memegang dan diarahkan ke mulut, hal ini sangat terlihat serakah. seharusnya mengambil secukupnya di mulut saja.
    Dalam makan bersama harus diupayakan selesainya bisa bersamaan. Apabila menjadi tuan rumah harus bisa menahan diri agar habisnya makanan paling akhir.
    Jika ingin menambah dalam makan, diperkirakan akan bisa habis, jangan sampai menyisakan banyak makanan. Meskipun di jaman lampau kebiasaan orang Jawa jika bertamu dan dijamu makan, makanan itu disisakan sedikit agar tidak terlihat serakah. Tetapi di jaman sekarang ini sebaliknya, sebisa makanan yang sudah diambil harus dihabiskan.
    Jika terdapat slilit dalam gigi maka ketika menggunakan tusuk gigi harus diupayakan ditutup dengan tangan kiri sehingga tidak terlihat orang lain.
    Selesai makan biasanya disusul makan buah. Ketika makan buah diupayakan kulit buah tersebut ditempatkan di piring atau tempat khsusus yang telah disediakan untuk kulit buah, jangan sampai dibuang disembarang tempat.

  21. Minum dan makanan ringan
    Dalam bertamu ketika dijamu minuman jangan sampai diminum langsung habis, tetapi diminum sedikit demi sedikit, hal ini juga menunjukkan jika meresapi minuman tersebut.
    Jika dijamu makanan ringan yang ada di toples terlebih dahulku ambil satu, jangan lebih karena tidak sopan. Kecuali jika sudah dipersilahkan baru kemudian mengambil lagi dan selanjutnya jangan sampai lupa menutup toples tersebut untuk menghindari mlempemnya makanan. Ingat jangan sampai mengambil makanan dengan tangan kiri.

  22. Melayat
    Melayat orang yang meninggal semestinya mengenakan pakaian yang sesuai, hindari pakaian yang mencolok menggambarkan kemeriahan dan kegembiraan. Ada yang berpendapat pakaian yang sesuai untuk melayat adalah pakaian hitam polos atau putih polos.
    Ketika melayat tidak selayaknya ketika berbicara dengan keras apalagi sambil tertawa. Di dalam proses pemakaman duiupayakan tidak terlalu banyak bicara, pabial dirasa harus bicara seperlunya saja.

  23. Bertamu
    Jika ingin bertamu ke tempat seseorang seharusnya memberikan kabar terlebih dahulu perihal bisa dan tidaknya menerima.
    Jika bertamu sementara rumah yang didatangi terlihat kosong, maka terlebih dahulu memberikan pertanda kehadiran dengan mengetuk pintu mengucapkan salam, dan berdehem. Jika memang kosong lebih baik pulang tidak melanjutkan bertamu.

Dafar Pustaka

Poerwadarminto, W. J. S.  1939. Baoesastra Djawa. J.B. Wolters-Groningen: Batavia.

Padmasusastra. 1914. Sêrat Subasita. Budi Utama: Surakarta





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai

Benteng Vedreburg

Benteng Vredeburg merupakan salah satu museum peninggalan Belanda yang sangat terkenal di Jogja karena di museum ini memiliki nilai cerita yang cukup panjang....

Baca Selengkapnya