Sejarah Kraton Kasultanan Ngayogyakarta




Oleh : Slamet Nugroho

  1. Awal berdirinya Negeri Ngayogyakarta

    Kraton Ngayogyakarta adalah salah satu kraton Jawa yang masih berdiri tegak di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain kraton Ngayogyakarta masih ada tiga lainnya yaitu Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman, yang sejak tahun 2004 keempat kraton itu disatukan dalam wadah Catur sagotra yang bertujuan untuk mempersatukan  keempat trah dalam ikatan kesamaan falsafah budaya dan keterkaitan sejarah leluhur Mataram.

    Keberadaan kraton Ngayogyakarta tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang dimulai dari perjanjian Giyanti pada tahun 1755 atau dikenal dengan palihan negari.

    Pada saat Mataram (Surakarta Hadiningrat) diperintah oleh Susuhunan Paku Buwono II, Pangeran Mangkubumi adik dari Susuhunan Paku Buwono II bermaksud untuk mengendalikan pesisir utara Jawa sebagai langkah strategis mengurangi pengaruh VOC di bumi Mataram. Akan tetapi, akibat penghianatan dan kecurangan yang dilakukan oleh Patih Pringgoloyo yang didukung VOC, langkah Pangeran Mangkubumi menemui jalan buntu. Hal tersebut mendorong Pangeran Mangkubumi keluar dari istana sejak tanggal 4 Jumadilawal 1671 atau 19 Mei 1746 untuk melakukan perlawanan terhadap VOC.

    Pada saat Nicholas Hartingh menduduki jabatan Gubernur Jawa Utara di Semarang, dia mempunyai cara untuk menyelesaikan masalah yang ditimbulkan oleh perlawanan Pangeran Mangkubumi. Pendekatan kepada Pangeran Mangkubumi dan menawarkan jalan perdamaian adalah cara yang dipilih oleh Hartingh. Sadar bahwa dia tidak bisa melakukannya sendiri maka Hartingh mengutus seorang keturunan Arab, Syekh Ibrahim atau lebih dikenal dengan Tuan Sarip Besar, untuk menawarkan jalan perundingan kepada Pangeran Mangkubumi.

    Pertemuan Pangeran Mangkubumi dengan Nicolas Hartingh dilaksanakan di desa Padagangan, Grobogan pada tanggal 22 – 23 September 1754, dengan tiga pembahasan yaitu:
    1. Pembagian Wilayah
    2. Gelar Raja Sunan dan Sultan
    3. Lokasi pusat pemerintahan kerajaan untuk Pangeran mangkubumi ing Ngayogyakarta.

    Kesepakatan yang diperoleh merupakan rancangan awal perjanjian yang kemudian dikenal sebagai Palihan Nagari. Hasil kesepakatan ini disampaikan kepada Gubernur Jenderal dan Paku Buwono III. Kata sepakat dari Paku Buwono III diperoleh pada tanggal 4 November 1754. Kemudian butir-butir kesepakatan tersebut dituangkan dalam naskah Perjanjian Giyanti. Puncaknya pada tanggal Kamis Kliwon 29 Rabi’ulakhir 1680 atau 13 Februari 1755, Perjanjian Giyanti ditandatangani oleh pihak-pihak terkait. Adapun yang ikut menandatangani perjanjian tersebut dari pihak Pangeran Mangkubumi di antaranya: 1). Pangeran Harya Hamangkunagara Mataram; 2). Pangeran Ngabehi Lering Pasar; 3). Pangeran Natakusuma; 4). Pangeran Harya Pakuningrat; 5). Adipati Danureja; 6). R.T. Rangga Prawiradirja. Sedangkan dari pihak VOC di antaranya:  1).  Nicolaas Hartingh; 2).  W. van Ossenberch; 3).  J.J. Steenmulder; 4).  W. Fockens.

    Isi dari perjanjian Giyanti tersebut adalah :
    1. Pangeran Mangkubhumi dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Sri Sultan Hamengku Bhuwana Sénapati ing Alaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah, dan memegang kekuasaan separuh dari negeri Mataram, yang akan diwariskan turun-temurun.
    2. Patih sebagai abdi dalem dengan pangkat tinggi yang menjalan kan perintah-perintah besar dibawah kendali VOC.
    3. Sultan memberikan ampunan kepada semua bupati yang sebelumnya mendukung VOC.
    4. Sultan tidak akan menuntut ha katas wilayah Madura dan wilayah pantai (pesisir) yang sudah diserahkan oleh Sunan Paku Bhuwana II kepada VOC.
    5. Sultan bersedia mentaati perjanjian-perjanjian yang telah disepakati oleh raja-raja Mataram sebelumnya dengan VOC.
    6. Sultan akan terbebas dari perjanjian jika VOC mengingkari isi perjanjian.

    Dengan ditandatanganinya perjanjian Giyanti tersebut, babak awal Kasultanan Yogyakarta dimulai. Pada Kemis Pon, 13 Maret 1755 (29 Jumadilawal 1680 TJ) Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai raja pertama Ngayogyakarta Hadiningrat dengan gelar "Sri Sultan Hamengku Bhuwana Sénapati ing Alaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah".

    Karena kraton Ngayogyakarta belum selesai dibangun maka pada hari Kamis Pon, 13 Sura 1681 atau 9 Oktober 1755 Sultan Hamengku Bhuwono bertempat di pesanggrahan Ambar Ketawang. Pada Kamis Pahing, 13 Sura 1682 atau 7 Oktober 1756 Sultan Hamengku Bhuwono beserta keluarga mulai menempati kraton dengan ditandai sengkalan memet "Dwi Naga Rasa Tunggal" (1682 J) yang diukir di dinding kelir Regol Magangan dan "Dwi Naga Rasa Wani" (1682 J) yang dikukir di dinding Regol Gadhung Mlathi.

  2. Konsep dan Filosofi Tata Ruang Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

    1. Tata Letak Kraton Yogyakarta
    Karaton Yogyakarta terletak di tanah   datar yang diapit 6 sungai (Codé, Winanga, Gajah Wong, Bedhog, Opak, Praga) yang simetris dan sebelah utara terletak Gunung Merapi dan Samodra Hindia di sebelah selatan.

    Posisi dan kedudukan yang demikian menunjukkan Kraton Yogyakarta berada pada sanctuary area (daerah yang disucikan).

    Hubungan Gunung Merapi, Kraton, dan Laut Selatan merupakan konsepsi Tri Hitta Karana sebagai Sumbu Imajiner, dan hubungan Tugu - Kraton - Panggung Krapyak  merupakan konsepsi Lingga - Yoni sebagai Sumbu Filosofi.

    Oleh Sri Sultan HB I sebagai arsitek tata ruang Kraton Yogyakarta, konsepsi yang Hinduistis tersebut diubah menjadi filosofi Islam - Jawa. Sumbu Imajiner diubah menjadi konsep filosofi Hamemayu Hayuning Bawana & Manunggaling Kawula Gusti, sedang Sumbu Filosofi diubah menjadi konsep filosofi Sangkan Paraning Dumadi, dengan Kedhaton sebagai titik pusat (centrum) filosofi dengan divisualisasikan lampu Kyai Wiji yang tidak pernah padam sejak Sri Sultan HB I bertahta.

    Dari Panggung Krapyak sampai Kedhaton melambangkan asal manusia dilahirkan sampai menginjak dewasa, menikah dan melahirkan (Sangkan). Dari Tugu Pal Putih sampai kedhaton melambangkan perjalanan manusia menghadap sang Pencipta (Paran).

    Khusus dari Bangsal Manguntur Tangkil ke utara sampai Tugu merupakan arah pandang Sultan pada saat meditasi di bangsal Manguntur Tangkil menghadap ke utara dengan Tugu Golong - Gilig sebagai titik pandang (point of view).

    Jenis vegetasi dari Tugu sampai ujung utara Jalan Pangurakan jenis vegetasi asli yang ditanam adalah pohon Asem dan Gayam. Asem bermakna sengsem (tertarik), dan Gayam bermakna ayom (teduh/damai).

    Jenis vegetasi dari Panggung Krapyak sampai Plengkung Nirbaya (Plengkung Gading) menggambarkan perjalanan kedewasaan seorang gadis. Jenis vegetasi yang ditanam pohon Asem dan Tanjung. Pohon Asem bermakna sengsem, sedang daun pohon Asem yang masih muda bernama Sinom bermakna anom (muda). Filosofi yang terkandung pada pohon Asem ini bahwa gadis yang masih anom (muda) akan meninimbulkan rasa sengsem (tertarik) bagi seorang jejaka, maka senantiasa disanjung (dilambangkan dengan pohon Tanjung).

    2. Filosofi Vegetasi di Karton Yogyakarta
    Kandungan filosofi vegetasi (tanaman) di Kraton Yogyakarta tidak hanya melekat            pada bangunan fisik saja namun juga pada jenis vegetasi tertentu yang dipercaya  mempunyai nilai simbolik dan filosofis tertentu yang  akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku manusia di dalam menjaga hubungan dengan Sang Pencipta, antar manusia dan alam. Berikut contoh vegetasi (tanaman) yang mempunyai makna simbolik dan filosofis tertentu :

    a. Beringin (Ficus bengalinsis)
    Pohon beringin melambangkan perlindungan, keadilan dan bersifat abadi. Pohon beringin juga melambangkan bersatunya kawula dan gusti, atau rakyat dengan pemimpin, atau manunggalnya manusia dengan Tuhannya yang divisualisasikan dengan 2 ringin kurung di          alun – alun kraton.
    Didalam bahasa sansekerta pohon beringin disebut juga nyagrodha atau satavrksa yang dihubungkan dengan kosmos dewa Wisnu. Secara teknis pohon beringin berfungsi sebagai penyerap CO2, produsen O2 dan penyaring udara yang cepat dan banyak.

    b. Tanjung (Mimusops elengi)
    Pohon Tanjung termuat di dalam Prasasti Siwagrha (856 M) yang menyebutkan bahwa di halaman  candi Prambanan sebelah timur        tumbuh pohon tanjung yang   digunakan sebagai perantara turunnya dewa ke bumi, dengan dahan - dahan pohon tanjung yang rindang sebagai payungnya. Secara teknis pohon Tanjung terkenal sebagai pohon penyerap debu.

    c. Gayam (Inocarpus edulis)
    Pohon gayam bermakna ayom (teduh) atau ayem (tenteram). Secara teknik pohon gayam berfungsi sebagai penyimpan, pemelihara dan penjernih air,maka pohon gayam sering             ditanam ditepi sungai, tetapi pohon gayam yang ditanam di linkungan kraton diambil dari makna filosofisnya bukan dari fungsi teknisnya.

    d. Sawo Kecik (Manilkara kauki)
    Sawo kecik banyak ditanam di halaman kedhaton atau rumah bangsawan. Pohon sawo kecik mengandung makna sarwa becik (serba baik)

    e. Asam (Tamarindus indica)
    Pohon asam (Asem Jw.) bermakna sengsem (tertarik) sedang daun asam yang masih muda disebut sinom yang bermakna anom (muda). Sinom juga nama dari rambut halus di dahi wanita.

    f. Kemuning (Murraya paniculata)
    Makna pohon kemuning melambangkan kesucian dan kejernihan berfikir (diambil dari suku kata ning = hening dari kemuning). Pohon kemuning mengingatkan manusia agar selalau mensucikan hati dan berfikir jernih.

    g. Kepel Watu
    Makna kata kepel adalah genggaman tangan manusia yang mengandung makna semangat untuk bekerja. Watu dari kata waton yang berarti dasar. Pohon kepel juga melambangkan bersatunya kemauan dan cita - cita.

    h. Jambu Darsana (Eugenia malasensis) dan Jambu Klampok Arum (Eugenia Densiflora)
    Jambu darsana diambil dari kata sudarsana    yang berarti contoh / tauladan, sedang Jambu Klampok juga disebut Jambu Dompolan yang melambangkan kerukunan. Makna filosofis             dari kedua pohon jambu tersebut bahwa            seorang pemimpin agar dapat menjadi contoh yang dipimpin dengan berkata yang harum sehingga dapat menjadi pemersatu /    merukunkan semua yang dipimpin.

  3. Raja-raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

    1. Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792)
    Dikenal dengan nama Pangeran Mangkubumi, pendiri dan pembangun Keraton Yogyakarta ini lahir pada tanggal 5 Agustus 1717 dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Sujono. Pangeran Mangkubumi merupakan putra Sunan Amangkurat IV melalui garwa selir yang bernama Mas Ayu Tejawati. Sri Sultan Hamengku Buwono I wafat pada tanggal 24 Maret 1792 (1 Ruwah 1718 TJ), dimakamkan di Astana Kasuwargan, Pajimatan Imogiri.

    2. Sri Sultan Hamengku Buwono II (1792-1828)
    Lahir di lereng Gunung Sindoro pada tanggal 7 Maret 1750 dari permaisuri kedua Sri Sultan Hamengku Buwono I (ibunda, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kadipaten), ia diberi nama kecil RM. Sundoro.

    Penobatannya sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono II pada tanggal 2 April 1792.

    Sultan Hamengku Buwono II dipaksa turun tahta oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels dan digantikan oleh putra mahkotanya RM. Surojo sebagai Hamengku Buwono III pada tanggal 31 Desember 1810.

    3. Sri Sultan Hamengku Buwono III (1810 - 1814)
    Beliau memiliki nama kecil Raden Mas Surojo, lahir pada tanggal 20 Februari 1769. Adalah putra Sri Sultan Hamengku Buwono II dengan Gusti Kanjeng Ratu Kedhaton.

    Pada usianya yang ke 41, tepatnya Bulan Desember 1810, terjadi manuver pasukan Belanda ke Keraton Yogyakarta sebagai buntut perseteruan antara Sri Sultan Hamengku Buwono II dengan Letnan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Akibat dari perseteruan ini, Sri Sultan Hamengku Buwono II dilengserkan dari jabatannya oleh pemerintah kolonial Belanda dan digantikan oleh Raden Mas Surojo.

    Pada tanggal 3 November 1814 (19 Dulkangidah 1741), Sri Sultan Hamengku Buwono III wafat pada usia 45 tahun. Beliau dimakamkan di Astana Kasuwargan, Pajimatan, Imogiri

    4. Sri Sultan Hamengku Buwono IV (1814 - 1822)
    Lahir pada tanggal 3 April 1804 dengan nama kecil Gusti Raden Mas Ibnu Jarot, beliau ditunjuk menjadi putera mahkota saat penobatan ayahnya sebagai sultan pada tanggal 21 Juni 1812. Tidak lama berselang, putra Sri Sultan Hamengku Buwono III dengan permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Hageng ini naik tahta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono IV pada tanggal 9 November 1814 ketika umurnya masih 10 tahun.
    Sri Sultan Hamengku Buwono IV wafat, 6 Desember 1823 (22 Rabingulawal 1750), Sri Sultan Hamengku Buwono IV masih berusia 19 tahun.

    5. Sri Sultan Hamengku Buwono V (1823 - 1855)
    Lahir pada tanggal 20 Januari 1821, putera Sri Sultan Hamengku Buwono IV dengan Gusti Kanjeng Ratu Kencono ini diberi nama Gusti Raden Mas Gatot Menol. Tahun 1823, ketika ayahandanya wafat, beliau diangkat menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono V ketika baru menginjak usia 3 tahun.

    6. Sri Sultan Hamengku Buwono VI (1855 - 1877)
    Dilahirkan dengan nama Raden Mas Mustojo pada tanggal 10 Agustus 1821, beliau adalah putera dari Sri Sultan Hamengku Buwono IV dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Kencono. Dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VI pada tanggal 5 Juli 1855.
    Pada tanggal 20 Juli 1877 (9 Rejeb 1806 TJ), ketika beliau menginjak usia 56 tahun, Sri Sultan Hamengku Buwono VI tutup usia. Beliau dimakamkan di Astana Besiyaran, Pajimatan Imogiri.

    7. Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877 - 1921)
    Raden Mas Murtejo, demikian nama kecil beliau, lahir pada tanggal 4 Februari 1839 dari rahim Gusti Kanjeng Ratu Sultan (Gusti Kanjeng Ratu Hageng). Beliau adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono VI. Menginjak usia 36 tahun beliau menggantikan posisi ayahandanya sebagai Sultan, setelah Sri Sultan Hamengku Buwono VI mangkat. Pada tanggal 22 Desember 1877 beliau resmi naik tahta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
    Sri Sultan Hamengku Buwono VII wafat pada tanggal 30 Desember 1921 (29 Rabingulakir 1851). Beliau dimakamkan di Astana Saptorenggo, Pajimatan Imogiri.

    8. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921 - 1939)
    Pada tanggal 3 Maret 1880, lahirlah putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII dari rahim Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas yang diberi nama Gusti Raden Mas (GRM) Sujadi. Setelah dewasa GRM Sujadi bergelar Gusti Pangeran Haryo (GPH) Puruboyo yang kelak dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Pada tanggal 8 Februari 1921, GPH Puruboyo kemudian dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
    Sri Sultan Hamengku Buwono VIII wafat pada tanggal 22 Oktober 1939 di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dimakamkan di Astana Saptarengga, Pajimatan Imogiri.

    9. Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1940 - 1988)
    Gusti Raden Mas Dorojatun, demikian nama yang disandang beliau ketika kecil. Dilahirkan pada tanggal 12 April 1912, beliau adalah anak kesembilan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dari istri kelimanya, Raden Ajeng Kustilah atau Kanjeng Ratu Alit.

    Hari Senin Pon, 18 Maret 1940, beliau dinobatkan sebagai putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Sudibja Radja Putra Narendra Mataram dan dilanjutkan penobatan beliau sebagai Raja dengan gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kandjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping IX. Di hari pelantikan tersebut beliau berpidato dan mengeluarkan kalimat yang dikenang oleh semua orang hingga saat ini, “Saya memang berpendidikan barat tapi pertama-tama saya tetap orang Jawa”.

    Tepat tanggal 2 Oktober 1988 malam, ketika beliau berkunjung ke Amerika, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menghembuskan nafas terakhirnya di George Washington University Medical Center. Beliau kemudian dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-raja di Imogiri.

    10. Sri Sultan Hamengku Buwono X (1989 - sekarang)
    Terlahir dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Herjuno Darpito pada tanggal 2 April 1946 di Yogyakarta. Dinobatkan sebagai Sultan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada tanggal 7 Maret 1989 atau Hari Selasa Wage, tanggal 29 Rajab 1921 berdasarkan penanggalan Tahun Jawa.

    Daftar Pustaka:

    Priyono, Umar dkk. 2015. Yogyakarta City of Philosophy. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Uji Nugroho Winardi dkk. 2020. Atlas Mataram. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

    https://www.kratonjogja.id/sebelum-bertahta, diunduh pada hari Selasa, 30 Maret 2021 pukul 08.00.





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai

Tembang Durma

Tembang Durma Menggambarkan fase dimana ketika manusia telah menikmati segala kenikmatan dari Tuhan maka wajib menysukuri semua kenikmatan dengan membantu sesame manusia yang membutuhkan.

Aturan....

Baca Selengkapnya