Pengetahuan Tentang Batik




Oleh : Arpeni Rahmawati, S.Pd.

Busana Jawa gagrag Yogyakarta tidak akan terlepas dari batik. Karena batik menjadi unsur utama dalam kelengkapan busana adat Jawa yaitu dikenakan untuk jarik/nyamping. Batik  telah diakui UNESCO pada tahun 2009 menjadi warisan budaya tak benda. Batik bagi masyarakat Jawa bukan hanya sekedar sebuah hasil karya kriya dengan motif cantik nan menawan. Namun di dalamnya terkandung makna ajaran budi pekerti melalui motif-motif yang terlukis di dalamnya. Dalam masyarakat Jawa terdapat paribasan Ajining raga saka busana hal ini merepresentasikan bahwa busana sangat mempengaruhi nilai diri seseorang. Batik sebagai busana diharapkan bukan hanya sekedar kain penutup tubuh semata, namun pemilihan motif batik yang sesuai akan menjadi sebuah doa dan harapan luhur bagi pemakainya.

A. Jenis, Proses Pembuatan, dan Alat Membuat Batik

Metode proses pembuatan batik terdiri dari batik tulis, batik cap dan batik kombinasi tulis dan cap, sedangkan batik yang menggunakan metode printing menurut para ahli tidak dapat dikategorikan sebagai batik karena proses pembuatannya menggunakan alat pabrik. Sehingga ada beberapa ahli yang menyatakan bahwa batik printing merupakan kain yang bermotif batik.

Batik tulis menggunakan tenaga manusia dalam pengerjaannya. Proses membatik dengan cara menggambar batik menggunakan malam (lilin cair) menggunakan alat yang bernama canting. Perlengkapan yang dibutuhkan dalam membatik antara lain

  1. Gawangan
    Gawangan adalah perkakas untuk membentangkan mori sewaktu dibatik. Gawangan umumnya terbuat dari kayu atau bambu.
  1. Bandhul
    Batik terbuat dari timah, atau kayu, atau batu yang dimasukkan dalam kain. Fungsi bandhul adalah sebagai penahan mori saat dibatik agar tidak mudah bergeser.
  1. Wajan
    Wajan dalam membatik sama dengan wajan pada umumnya yang terbuat dari logam, baja atau tanah lihat namun ukurannya lebih kecil dibanding dengan wajan untuk memasak makanan di dapur.
  1. Anglo
    Anglo hampir seperti tungku kecil yang terbuat dari tanah liat. Fungsinya adalah untuk pemanas “malam”. Namun adakalanya anglo diganti dengan keren, bahkan sekarang banyak yang menggantinya dengan kompor minyak namun berukuran kecil.
  1. Tepas
    Tepas atau kipas, terbuat dari anyaman bambu. Tepas kadang diganti dengan ilir, sama-sama terbuat dari dari anyaman bambu namun berbeda bentuk. Tepas berbentuk persegi panjang namun salah satu sisinya lebih runcing. Pegangan tepas di sisi yang runcing tersebut. Sedangkan ilir berbentuk bujur sangkar dan tangkainya terletak di salah satu sisinya.
  1. Taplak
    Taplak dalam membatik berfungsi seperti apron, yaitu sebagai penutup paha pembatik agar tidak terkena tetesan malam.
  1. Saringan malam
    Merupakan alat untuk menyaring malam agar kotoran tidak ikut masuk dalam canting. Sehingga proses membatik di kain lebih lancar
  1. Dhingklik/lincak
    Dhingklik adalah kursi kecil, dapat terbuat dari bamboo, kayu ataupun plastik.
  1. Canting
    Canting digunakan untuk melukis motif batik dengan cairan malam. Alat ini terbuat dari tembaga. Ada beberapa macam canting menurut fungsinya yaitu canting reng-rengan, canting isen, canting cecekan, canting loron, canting telon, canting prapatan, canting liman, canting byok, dan canting renteng atau galaran. Terdapat pula canting cap, yaitu alat untuk membuat batik dengan metode cap yang terbuat dari tembaga atau kayu.
  1. Mori
    Mori adalah bahan baku batik berupa kain dari katun.

B. Motif Batik

Batik di Indonesia dapat ditemukan di berbagai pelosok daerah. Di Pulau Jawa batik dapat ditemukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timut dan DIY. Perbedaan batik dari berbagai tempat di Jawa terletak pada motif dan pewarnaan yang digunakan. Namun pada umumnya batik klasik mempunyai berbagai motif khas yang dapat ditemukan di hampir wilayah Jawa. Motif tersebut antara lain:

  1. Motif Parang
    Motif parang terdiri dari motif gondosuli, parang baris, parang centong, parang curiga, parang jenggot, parang kembang, parang kirna, parang klithik, parang kurung, parang Kusuma, parang menang, parang ngesti, parang oancing, parang peni, parang rusak, parang sarpa, parang sawut, parang sobrah, parang sonder, parang suli.
  1. Motif Geometri
    Motif geometri diantaranya bibis pista, cakar melik, cempaka mulya, Jayakusuma, Kanigara, Kawung beton, kawung picis serta masih banyak motif geometri lainnya.
  1. Motif Banji
    Motif banji terdiri dari banji, banji bengkok, dan banji guling
  1. Motif Tumbuhan Menjalar
    Motif ini contohnya adalah motif anggur, cokrak-cakrik, duda brengos, lung klewer, sembagen, semen ceplokan, semen gurda, serta masih banyak lainnya
  1. Motif Tumbuhan Air
    Motif tumbuhan air contohnya adalah motif ganggong, ganggong Jubin, ganggon kebar, ganggong lerep dan beberapa lainnya
  1. Motif Bunga
    Contoh dari motif bunga adalah cakrakusuma, cempaka mekar, ceplok kelan, ceplok manggis, gandosan, grompol, jayakirna serta masih banyak lainnya
  1. Motif Hewan
    Motif hewan contohnya adalah alas-alasan, ayam puger, baita kandas, bramara, cuwiri, gringsing, kupu gandrung, naga bisikanm peksi garuda, peksi huk, semen candra, semen remeng, sida luhur, sida mukti, singa barong, supit urang, dan lain sebagainya.

C. Makna Filosofi Batik

Motif batik klasik hingga kini masih terbukti mempunyai daya Tarik sendiri. Selain memiliki motif yang beragam dan cantik. Namun ternyata motif batik bagi masyarakat Jawa memiliki makna filosofi tersendiri. Diantaranya sebagai berikut

  1. Motif Kawung
    Motif kawung bermakna kiblat papat lima pancer yang artinya empat penjuru mata angin dengan satu pusat sebagai simbol Tuhan Yang Maha Esa. Namun ada pula yang berpendapat bahwa motif kawung menyimbolkan bunga Teratai yang bermakna kesucian
  1. Motif Parang
    Motif parang terdiri dari komposisi miring pada motif parang ini juga menjadi lambang kekuasaan, kebesaran, kewibawaan, dan kecepatan gerak. Ada pula yang menyebutkan motif parang jika digunakan dalam berperang, maka Ksatria yang mengenakan motif ini diyakini bisa berlipat kekuatannya.
  1. Motif Huk
    Motif ini dipakai sebagai simbol pemimpin yang berbudi luhur, berwibawa, cerdas, mampu memberi kemakmuran, serta selalu tabah dalam menjalankan pemerintahannya
  1. Motif Truntum
    Motif truntum diambil dari Bahasa Jawa “taruntum” yang berarti tumbuh kembali atau bersemi Kembali. Makna dari motif ini adalah kasih saying, berseminya Kembali rasa kasih sayang.
  1. Motif Semen
    Motif semen memiliki makna kesuburan, kemakmuran, dan alam semesta. Dalam motif semen terdapat gambar lain berupa gunung atau meru, garuda, sayap, candi, dan naga. Pemakai motif semen diharapkan dapat menjadi pemimpin yang mampu melindungi bawahannya
  1. Motif Semen Naga Keraton
    Naga diimajinasikan sebagai binatang yang mempunyai kekuatan dan kesaktian luar biasa. Batik Motif Semen Naga Keraton melambangkan kekuasaan keraton sebagai simbol yang mengatur negara.
  1. Motif Semen Sinom
    Sinom dalam bahasa Jawa dapat berarti rambut daun asam yang masih muda, rambut yang ada di dahi atau dapat pula diartikan sebagai anak muda. Maka motif ini memiliki makna anak muda yang memiliki semangat dan kegembiraan.
  1. Motif Sidaasih
    Motif ini berasal dari 2 kata, sida dan asih. Sida berarti jadi, terus dilakukan dan asih berarti kasih saying. Maka batik ini dapat diartukan sebagai lambang kehidupan manusia yang penuh kasih saying dan cinta kasih
  1. Motif Sidaluhur
    Sesuai dengan asal katanya motif ini memiliki makna keluhuruan. Diharapkan yang mengenakan motif ini akan memiliki keluhuran dalam hidupnya, baik luhur rejekinya, pangkat, derajat serta perilakunya.
  1. Motif Udan Riris
    Motif ini berasal dari kata udan yang berarti hujan, dan riris yang berarti gerims. Makna dari motif ini adalah pengharapan agar pemakainya selamat sejahtera, tabah, dan berprakarsa dalam menunaikan kewajiban demi kepentingan nusa dan bangsa
  1. Motif Kasatriyan
    Motif ini sebagai perlambang watak satriya yang gagah dan bijaksana, sehingga yang memakainya diharapkan memiliki watak demikian. Selain motif-motif di atas masih banyak motif lain yang memiliki makna filosofi yang luhur. Motif di atas adalah motif yang umum digunakan dan dikenal masyarakat

D. Penggunaan Kain Jarik Batik

  1. Kain Jarik Batik dalam Upacara Adat Daur Hidup
    a. Upacara Pernikahan
    Pernikahan adalah suatu proses daur hidup manusia dengan menyatunya dua insan untuk menyatukan niat, tekad menuju keluarga yang harmons dan sejahtera. Pada upacara pernikahan adat Jawa terdapat beberapa tahap proses pernikahan. Adapun motif batik yang sering digunakan adalah motif truntum, sidaasih, grompol dan sidamukti. Pada upacara pernikahan kain pengantin dapat dihiasi dengan pradan.
    b. Upacara Mitoni
    Mitoni merupakan upacara adat bagi kehamilan pertama bagi ibu, ketika kehamilan memasuki bulan ke-7. Upacara mitoni dapat pula disebut dengan upacara tingkeban. Pada upacara ini ada beberapa motif batik yang digunakan pada saat nyampingan, yaitu Ketika sang ibu akan mengenakan jarik sebanyak 7 kali dari yang bermotif  mewah hingga motif sederhana. Motif yang digunakan di antaranya sidaluhur, sidamukti, truntum, wahyu tumurun, udan riris, lasem, dringin
    c. Kelahiran
    Pada saat kelahiran dalam tradisi Jawa tidak terdapat upacara khusus yang menggunakan motif batik tertentu. Namun terdapat motif batik tertentu yang dipercaya dapat membuat bayi tenang dan tidak rewel. Motif yang digunakan adalah motif hewan berbisa sebagai simbol pelindung bayi, diantaranya bermotif naga, kalajengking, dan lipan.
    d. Kematian
    Kematian adalah berakhirnya kehidupan manusia di dunia. Manusia akan kembali menyatu dengan alam menghadap kepada Tuhan YME. Dalam tradisi masyarakat Jawa motif kain batik tertentu digunakan dalam upacara kematoan, yaitu sebagai penutup jenazah ketika disemayamkan. Motif kain dalam upacara kematian ini dipercaya dilarang digunakan dalam upacara pernikahan karena akan membawa kesialan. Motif batik yang digunakan dalam upacara kematian diantaranya motif slobok, kawung atau sidaluhur.
  2. Motif Batik Awisan Dalem
    Motif batik larangan atau sering disebut dengan batik awisan dalem adalah motif batik yang hanya bisa digunakan oleh kalangan tertentu dan terikat dengan aturan-aturan di Keraton Yogyakarta dan tidak semua orang boleh memakainya. Motif batik awisan dalem diantaranya adalah:
    a. Motif Parang
    Parang Rusak adalah motif pertama yang dicanangkan sebagai pola larangan di Kesultanan Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada 1785.
    1) Parang Rusak Barong hanya boleh dikenakan oleh raja dan putra mahkota.
    2) Parang Barong dikenakan oleh sultan, permaisuri dan istri utama, putra mahkota, putri sulung sultan, Kanjeng Panembahan, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati, putra sulung sultan dan istri utamanya
    3) Parang Gendreh dipakai oleh putra-putri sultan dari permaisuri dan garwa ampeyan, istri (garwa ampeyan), putra-putri dari putra mahkota, Pangeran Sentono, istri utama para pangeran, dan patih
    4) Parang Klithik dipakai oleh putra ampeyan Dalem, dan garwa ampeyan (selir putra mahkota), cucu, cicit/buyut, canggah, dan wareng
    b. Motif Huk
    Motif huk terdiri dari motif kerang, binatang, tumbuhan, cakra, burung, sawat (sayap), dan garuda. Motif ini hanya boleh dikenakan oleh raja dan putra mahkota.
    c. Motif Kawung
    Motif kawung merupakan pola geometris dengan empat bentuk elips yang mengelilingi satu pusat. Motif ini boleh dipakai oleh para Sentana Dalem.
    d. Motif Semen
    1) Kampuh motif Semen Gedhe Sawat Gurdha dipakai untuk cucu sultan, istri para pangeran, penghulu, Wedana Ageng Prajurit, Bupati Nayaka Lebet, Bupati Nayaka Njawi, Bupati Patih Kadipaten, Bupati Polisi, Pengulu Landraad, Wedana Keparak Para Gusti ( Nyai Riya), Bupati Anom, serta Riya Bupati Anom.
    2) Kampuh Semen Gedhe Sawat Lar dipakai untuk buyut dan canggah sultan. Ada satu pengecualian dalam pemakaian motif semen. Motif semen tanpa lukisan meru, garuda (sawat), dan sayap (lar), boleh dipakai siapa saja tanpa harus memperhitungkan garis keturunannya.
    e. Motif Cemukiran
    Motif cemukiran berbentuk lidah api atau sinar. Motif ini hanya boleh dikenakan oleh raja dan putra mahkota.
    f. Motif Udan Riris
    Motif ini boleh dikenakan oleh putra dari garwa ampeyan, wayah, buyut, canggah, Pangeran Sentana dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom.

Sumber :

  • Asti Musman & Ambar B. Arini. 2011. Batik : Warisan Adiluhung Nusantara. Yogyakarta : G Media
  • Hamzuri. 1985. Batik Klasik. Jakarta : Penerbit Djambatan
  • Iwan Tirta. 2009. Batik A Play of Light and Shades. Jakarta : PT Gaya Favorit Press
  • https://www.kratonjogja.id

 





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai