Penanaman Karakter Sopan Santun Melalui Lagu Sugeng Enjing




Oleh : Apsi Santi Muninggar Sari, S.Pd

Pendidikan karakter dalam bentuk penanaman nilai-nilai karakter positif untuk menghasilkan manusia berkepribadian menjadi hal yang sangat mendesak, serta menjadi sangat penting untuk diberikan sejak usia dini. Pendidikan anak usia dini sebagai pendidikan yang paling fundamental dalam melandasi anak di masa depan dan mempersiapkan sumber daya manusia berkualitas. Pendidikan karakter sejak usia dini diharapkan membentuk anak-anak yang cerdas, berkarakter baik, berkepribadian mantap, mandiri, disiplin dan memiliki etos kerja tinggi yang sangat dibutuhkan oleh tuntutan di era globalisasi.

Khalifah dan Naimah (2015) menyebutkan bahwa perubahan zaman dan perkembangan teknologi ternyata telah membawa perubahan di segala segmen baik pola, gaya hidup, dan juga tingkah laku manusia. Hal ini juga terjadi pada peserta didik yang sedang dalam tahap belajar, termasuk peserta didik yang kurang sopan terhadap guru dan sesama teman sebaya yang lainnya. Sedangkan Menurut Mahfudz (2010: 3), berpendapat bahwa kurangnya sopan santun pada anak disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

  • Anak-anak tidak mengerti aturan yang ada, atau ekspektasi yang diharapkan dari dirinya jauh melebihi apa yang dapat mereka cerna pada tingkatan pertumbuhan mereka saat itu.
  • Anak-anak ingin melakukan hal-hal yang diinginkan dan kebebasannya.
  • Anak-anak meniru perbuatan orang tua.
  • Adanya perbedaan perlakuan di sekolah dan dirumah.
  • Kurangnya pembiasaan sopan santun yang sudah diajarkan oleh orang tua sejak dini.

Kondisi dilapangan saat ini banyak ditemui perilaku siswa yang bertentangan dengan norma dan nilai yang berlaku dimasyarakat pada umumnya, banyak sikap siswa yang kurang mencerminkan seorang pelajar, misalnya siswa yang berani terhadap guru, siswa yang acuh tak acuh jika diberikan nasihat, berbicara kepada guru dengan nada yang tinggi dan lain sebagainya.

Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan interaksi dengan manusia lain. Pada saat berhubungan dengan orang lain, komunikasi merupakan hal yang paling penting agar hubungan dapat berjalan dengan baik. Sistem komunikasi yang efektif dan mudah dipahami adalah melalui sarana bahasa yang digunakan oleh masing-masing komunikan. Melalui tatanan penempatan dan penggunaan bahasa, karakter manusia dapat tercermin dari pesan yang terkandung pada saat proses penyampaiannya. Komunikasi yang baik, akan selalu menempatkan etika pada setiap bahasa yang digunakannya. Pada hal ini, salah satu bahasa yang dapat menjadikan manusia memiliki etika dan karakter yang diinginkan oleh sebagaimana makhluk sosial lain ialah bahasa Jawa.

Etika Jawa pada intinya mengacu kepada kebudayaan Jawa yang mempunyai nilai dan didasarkan pada pantas dan tidak pantas apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila seseorang berbahasa jawa dengan orang lain dengan tidak tepat tataran yang digunakan, maka pergaulan dengan orang lain menjadi terganggu, menjadi tidak serasi, menjadi tidak harmonis Digdaya (dalam Purwadi, 2011: 243). Tingkatan bahasa jawa dipakai sebagai tata pergaulan yaitu unggah-ungguh. Cara menghormati orang lain dalam berkomunikasi dengan bahasa Jawa oleh Clifford Geertz dikatakan istilah unggah-ungguh disebut juga sebagai andap asor yaitu suatu sikap merendahkan diri dengan sopan dan merupakan kelakuan yang benar yang harus ditunjukkan kepada setiap orang yang sederajat atau lebih tinggi (Setyanto dkk, 2015: 125).

Eksistensi penggunaan bahasa Jawa saat ini dirasakan semakin memudar. Semakin hari semakin sedikit masyarakat Jawa yang mau menggunakan bahasa Jawa dalam pergaulan hidup sehari-hari apa lagi digunakan dalam lingkup yang lebih luas sebagai bahasa pengetahuan. Hasil ini didukung oleh hasil pengamatan yang dilakukan oleh Setyanto, dkk (2015) menunjukkan bahwa ada kecenderungan kuat bahwa masyarakat Jawa sudah mulai meninggalkan penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa percakapan sehari-hari. Hal tersebut berdampak di dunia instansi pendidikan.

Dampak negatif dari adanya pendangkalan bahasa Jawa di kalangan pemuda Jawa kini mulai terasa akibatnya. Banyak anak-anak yang tidak tahu penerapan sopan santun kepada mereka yang lebih tua, atau yang seharusnya dihormati. Lunturnya bahasa Jawa membuat kualitas budi pekerti dan tata krama pemuda di Jawa semakin menurun. Karena cenderung tidak biasa berbahasa jawa halus/krama mereka lebih memilih berbahasa Indonesia yang dianggap lebih mudah. Oleh karena itu, berbahasa jawa krama yang baik dan benar perlu ditanamkan sejak dini supaya bahasa tetap terjaga kelestariannya dan karakteristik masyarakat suku Jawa yang dikenal berbudi luhur dan memiliki tata krama yang baik dan tetap terjaga.

Sabdawara (dalam Setyanto 2015: 126) menyatakan bahwa bahasa Jawa dapat digunakan sebagai wahana pembentukan budi pekerti dan sopan santun karena kaya dan lengkap dengan perbendaharaan kata sebagai bahasa yang meliputi: fungsi, aturan atau norma kebahasaan, variasi atau tingkatan bahasa, etika dan nilai-nilai budaya yang tinggi dengan segala peran fungsinya. Bahasa Jawa memiliki fungsi komunikatif yang berperan sebagai sarana untuk mengenalkan nilai-nilai luhur, dan sopan santun dengan mengenali batas-batas serta menumbuhkan rasa tanggung jawab sehingga nilai sopan santun dapat membentuk pribadi seseorang Sabdawara.

Pada kehidupan bermasyarakat, penggunakan bahasa Jawa krama dapat dijadikan sebagai sarana untuk menjaga keharmonisan dalam interaksi social. Para orang tua berpendapat bahwa penggunaan bahasa Jawa krama dapat membuat anaknya menjadi lebih sopan, menghormati orang lain, khususnya pada orang yang lebih tua. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa dengan membiasakan anak untuk menggunakan bahasa Jawa, dapat membuat anak memiliki sikap sopan santun yang baik (Purwadi, 2011).

Sopan santun adalah suatu aturan atau tata cara yang berkembang secara turun temurun dalam suatu budaya di masyarakat yang bisa bermanfaat dalam pergaulan antar sesama manusia sehingga terjalin suatu hubungan yang akrab, saling pengertian serta saling menghormati. Terdapat dua jenis sopan santun, yaitu sopan santun dalam berbahasa dan sopan santun dalam berperilaku. Santun bahasa menunjukan bagaimana seseorang melakukan interaksi sosial dalam kehidupannya secara lisan. Setiap orang harus menjaga santun bahasa agar komunikasi dan interaksi dapat berjalan baik. Bahasa yang dipergunakan dalam sebuah komunikasi sangat menentukan keberhasilan pembicaraan. Sedangkan santun dalam berperilaku dapat diimplementasikan dengan cara berbicara dan cara memperlakukan orang lain (Chazawi, 2007)

Penanaman Karakter Sopan Santun melalui Lagu Sugeng Enjang

Sebelum melakukan analisis terkait penanaman karakter sopan santun melalui lagu sugeng enjang, berikut adalah “Lirik lagu Sugeng Enjang”

Yen esuk sugeng enjang
Yen awan sugeng siang
Yen sore sugeng sonten
Yen bengi sugeng ndalu

Di timbali matur dalem
Diparingi matur nuwun
Yen lewat nderek langkung
Yen lepat nyuwun pangapunten

Yen esuk sugeng enjang
Yen awan sugeng siang
Yen sore sugeng sonten
Yen bengi sugeng ndalu

Di timbali matur dalem
Diparingi matur nuwun
Yen lewat nderek langkung
Yen lepat nyuwun pangapunten

Yen Lepat Nyuwun pangapunten

 

Dalam Lirik lagu Sugeng Enjing,terdapat dua bagian yang berulang, yaitu bait pembuka dan bait isi, didalam bait isi inilah terdapat nilai-nilai atau karakter sopan-santun yang ingin ditanamkan lagu pada diri anak-anak. Karakter yang diajarkan lagu tersebut antara lain:

  1. Menjawab atau memberikan respon dengan sopan ketika dipanggil
  2. Mengucapkan terimakasih saat menerima pemberian
  3. Mengucapkan permisi ketika melalui orang lain
  4. Mengucapkan maaf ketika melakukan kesalahan

 

Lagu sugeng enjang sendiri dapat digolongkan menjadi lagu dolanan untuk anak-anak dalam bahasa Jawa. Merujuk pada pendapat Lanson 2009:30 mengenai karakter anak dapat dilihat pada hubungannya dengan diri sendiri, serta hubungannya dengan orang lain. Dimaksudkan hubungan anak dengan diri sendiri mencakup disiplin, tanggung jawab, percaya diri, serta berani. Sedangkan hubungan anak dengan orang lain mencakup pada jujur, hormat, empati, melakukan kebaikan,serta melakukan kebajikan kepada sesama. Muatan nilai pada lirik lagu dolanan tersebut mengajarkan penggunaan bahasa kepada lawan bicara dengan tujuan menghormati. Selain itu secara tidak langsung dengan menggunakan bahasa Jawa ragam karma tersebut akan menciptakan pribadi yang memiliki etika dan sopan santun. Hal tersebut senada dengan karakter yang ingin dicapai, bahwa paling tidak mereka berlatih lembah manah, lembah manah itu sabar, tahu tata krama, sopan dan lebih beradab, selain itu kita juga memasukkan nilai-nilai keagamaan. Melalui tembang dolanan diatas, harapan bahwa paling tidak siswa siswinya dapat melatih rasa untuk bisa bersabar, bisa menerapkan tata krama, sopan santun, sehingga bisa menjadi generasi yang beradab.

Meskipun sarat dengan pesan moral yang mendidik, tembang dolanan disampaikan dengan bahasa Jawa yang sederhana sehingga mudah dihafal dan dicerna sesuai dengan tingkat kematangan psikologi suatu perkembangan jiwa anak yang masih suka bermain dan ramai sendiri. Pembentukan karakter sopan santun pada siswa dapat dilakukan menggunakan bahasa Jawa dengan cara mengajarkan kepada anak salah satunya melalui lagu bahasa Jawa. Berdasarkan isi syair lagu tersebut ada 4 pesan karakter sopan santun yang harus ditanamkan pada diri anak yaitu: meminta maaf ketika melakukan salah, mengucap terimakasih saat menerima, menjawab tegur sapaan orang lain dan mengucap permisi saat melalui orang lain. Melalui lagu tersebut diharapkan  dapat membantu membentuk karakter sopan santun pada diri anak-anak.

Daftar Pustaka

Ainah, Sarbaini, Adawiah, A. 201). Strategi Guru PKN Menanamkan Karakter Sopan Santun dalam Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP Negeri 3 Banjarmasin. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraa, 6 (11), 875-881.

Al-Nashr, M.S. 2010. Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal; Telaah Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid. Skripsi Tidak Dipublikasikan. Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo.

Chazawi, A. 2007. Tindak Pidana Kesopanan. Jakarta: Rajawali Pers.

Eneng Garnika, Membangun Karakter Anak Usia Dini, (Jawa Barat, Edu Publiser: 2020), 1

Indah Yulianti, dkk. 2018. Penerapan Bahasa Jawa Krama Untuk Membentuk Karakter Sopan Santun di Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Nasional “Penguatan Pendidikan Karakter Pada Siswa Dalam Menghadapi Tantangan global”. Kudus, 11 April 2018

Purwadi. 2011. Etika Komunikasi dalam Bahasa Jawa. Jurnal Ilmu Komunikasi, 9(3), 139-249

 Saptono Hadi & Agus Hermawan. Hidden Card untuk Meningkatkan Kompetensi Pragmatik Anak Prasekolah dalam Pembelajaran Kosa Kata Penguatan Pendidikan Karakter Bangsa. BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual. Vol.5 No.2 Mei 2020





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai

Unggah-ungguh

A. Pengertian

Unggah-ungguh dalam kamus bahasa Jawa-Indonesia yang disusun oleh Tim Balai bahasa Provinsi DIY tahun 2021 diartikan adab berbahasa yang dibedakan....

Baca Selengkapnya