Jimat Ndakan, Semiotika Urip dari Lereng Merbabu




Oleh : Indra Oktora

Setidaknya, terbesit sebuah pikiran ketika ada kata jimat. Entah itu klenik, mistik, yang berbau gaib, dan semacamnya, atau kadang sampai ekstrim mengatakan tentang pesugihan. Secara awam pula, jimat bisa diartikan dalam kerata basa dari tembung siji dirumat atau dalam bahasa Indonesia satu barang yang dijaga. Dalam arti yang lebih spesifik, jimat dimaknai benda tinggalan wong mbiyen yang kudu dirumat, diajeni, diopeni dan jika tidak dilakukan pasti akan terjadi sesuatu atau lebih sering dikatakan kuwalat. Sebenarnya ini lebih kepada hal dimana amanah itu memang berat dan akan berdampak secara langsung maupun tidak langsung kepada yang dipasrahi amanah. Lebih dari itu, ngopeni berarti kita masih tetap sayang kepada simbahe awak dhewe meski dari sebuah simbol benda. Meski kadang ada yang alah luweh, tapi tidak sedikit pula yang tetap memegang amanah tersebut dan mereka malah dijuluki sebagai penjaga warisane simbah. Dari sekian banyak tempat yang mendapat predikat spesial terkait dengan Jimat, Merbabu merupakan salah satu darinya.

Sejak jaman Hindu Buddha, Merbabu telah kondhang sebagai salah satu tempat para lahirnya para pujangga-pujangga sastra. Ini terbukti dari banyaknya temuan arkeologis seperti candi dan prasasti yang mengelilingi ibune merapi tersebut seperti prasasti Ngrawan di Getasan, Prasasti Plumpungan di Salatiga, dan temuan lepas seperti beberapa Yoni dan kotak peripih di daerah Wonokoso, Kabupaten Magelang. Tidak hanya itu, beberapa lontar tercipta di sekitar Gunung Merbabu yang terkenal dengan nama Lontar Merapi Merbabu. Sebut saja Putru Sangaskara yang masih tersimpan rapi di dalam rumah salah seorang warga Kedakan. Lontarnya disimpan di dalam kothak wayang yang sering disebut Jimat Ndakan.

Jimat Ndakan sebenarnya adalah sebuah wayang peninggalan Ki Hajar Ndaka, seorang yang dipercaya sebagai cikal bakal atau Ajengan dusun Kedakan di lereng Merbabu. Konon wayang tersebut berasal dari jisim Ki Hajar Ndaka yang dikuliti punggungnya. Terlepas dari betul dan salah kabar tersebut, namun Jimat Ndakan yang hanya sebuah wayang tersebut dapat memberikan pelajaran bahwa meskipun Ki Hajar Ndaka sudah meninggal, namun ia tetap bermanfaat untuk orang di sekitarnya. Sebuah ilmu aja pedhot oyot dan migunani tumrap liyan dari sebuah tradisi wayangan di masyarakat. Ini juga merupakan edheng-edheng sesrawungan dari sebuah kata mengerikan, degradasi sosial yang tergerus oleh perkembangan jaman dan globalisasi.

Jimat Ndakan tidak diadakan untuk seorang saja, namun lebih kepada masyarakat yang ada di sekitar Dusun Kedakan. Wayang yang konon berasal dari kulit manusia itu kemudian dikompliti sehingga dapat dijadikan sebuah gelaran wayang. Ini merupakan sebuah semiotika jika seseorang tidak akan mampu urip dhewekan. Tidak akan berjalan sebuah kehidupan jika sesorang itu hidup sendiri dan tidak membutuhkan orang lain. Proses mengadakan gelaran ini pun juga tidak akan dapat berjalan jika diadakan sendiri. Nabuh gamelan, nyepakke segala macam uba rampe, sampai pada selesainya dan usung-usung mlebu kothak juga membutuhkan bantuan banyak orang. Betapa ini merupakan pekerjaan yang sepele namun luar biasa kandungan maknanya.

Gelaran wayang Jimat Ndakan diadakan hanya sekali dalam setahun, yaitu setiap hari kedua di bulan Sawal setiap tahun. Ini sebenarnya adalah proses menghormati sebuah agama mayoritas dalam memeringati riyayan. Jika gelaran dilaksanakan pada hari pertama ketika Sawal, maka wayang tidak akan berdampak banyak bagi masyarakatnya. Betul kata Prof. Quraish Shihab dalam sebuah bukunya yang mengatakan, perbedaan merupakan rahmat apabila kita bisa saling toleransi. Ternyata dalam kutipan itu, orang jawa yang diwakili oleh masyarakat Kedakan telah melakukannya beberapa abad yang lalu dan minim konflik. Masyakarat dahulu memang sangat peka dalam hal menjaga hati. Sinau urip dari masyarakat ndesa yang bagi orang kota cenderung kurang berpendidikan namun ternyata lebih intelektual dari banyak sisi.

Wujud ora lali marang Sing Gawe Urip juga terlihat dari sebelum acara gelaran merapalkan doa-doa dalam bahasa arab dan jawa. La iloha ilola dalam ilat jawa yang bermakna klawan ana Gusti kejaba Kangjeng Pangeran yang kemudian dilanjutkan dengan meniup wedang putih. Wedang putih ini diletakkan sebagai sesaji di bawah gayor wayang dimana nantinya yang akan diperebutkan oleh para warga, karena warga meyakini wedang putih ini memiliki karomah setelah dibacakan doa. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Dr. Masaru Emoto, seorang peneliti air dari Jepang yang menyimpulkan air akan memiliki karomah jika dibacakan doa atau informasi positif.

Wujud persatuan yang tertulis dalam sila ketiga Pancasila pun terlihat dari sesaji berupa ketan golong. Terbuat dari nasi ketan yang dibuat bulat sebesar bola sepak dan diletakkan di piring berwarna putih. Golong yang bermakna ngumpul dadi siji (Baoesastra Djawa, 159) benar-benar terrealisasi dalam gelaran wayang dimana orang betul-betul berkumpul, gotong royong dan bahu membahu demi terlaksananya gelaran wayang. Kalau melihat medan di Dusun Kedakan, jalan naik turun dengan ketinggian 1200mdpl, dapat dipastikan tidak akan terjadi gelaran wayang tersebut andaikata dilaksanakan tanpa gotong royong. Jika melihat dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang baru saja ditetapkan Unesco sebagai warisan budaya dunia, golong juga disematkan dalam salah satu nama pancer Sumbu filosofi yaitu Tugu Golong Gilig. Sarat makna akan Manunggaling Kawula Gusti dimana rakyat dan raja harus bersatu agar semua masalah dapat diselesaikan. Tidak akan selesai sebuah masalah kenegaraan jika rakyat sendiri atau pemimpinnya saja yang bergerak. Inilah wujud simbol bulatan, mubeng kuwi mbalik ing asale lan dadi siji (melingkar/golong itu dari asal kembali ke asal dan pasti akan bersatu lagi).

Akhir dari gelaran Jimat Ndakan adalah pembagian sesaji kepada semua yang datang dalam acara gelaran. Inilah yang dinanti-nanti oleh semua yang hadir dalam acara tersebut. Ini pula puncak dari acara gelaran wayang Jimat Ndakan. Puncak dari acara diakhiri dengan pemotongan Tumpeng Panggang Mas oleh Mbah Dhalang. Panggang Mas adalah sebuah tumpeng dari nasi putih yang dibentuk kerucut dengan hiasan endhog ceplok dan ditancapkan di pucuk tumpeng. Filosofi paran dumadi tersimbolkan oleh ujung tumpeng dan hiasannya. Tumpeng sebagai wujud dari perjalanan hidup manusia yang nglancip atau dalam kata lain yang memiliki sebuah tujuan. Tujuan menggapai kebahagiaan yang disimbolkan dengan endhog ceplok. Fiddunya hasanah fil akhiroti hasanah, bagya ing dunya lan bagya ing ngakherat.

Dhalang dari kerata basa ngudhar piwulang merupakan pemeran utama dalam pementasan. Memberikan ilmu dalam pagelaran adalah tujuan utamanya. Tuhan dimanifestasikan sebagai dalang dan manusia sebagai wayangnya. Sak karepe dhalange anggone nglakokke. Kita hanya nut ilining banyu, aja garing merga ketiga, aja mbebayani merga rendheng. Mbah Dhalang sebagai pelaku utama adalah orang yang mendapat mandat dari Mbah Dhalang sebelumnya. Melalui wisik dalam sebuah mimpi, dalang akan digantikan andaikata mbah dhalang bermimpi ada seseorang yang akan menggantikannya. Sehari setelah mimpi tersebut, Mbah Dhalang akan meminta tolong para warga untuk membawa seluruh peralatan gelaran wayang Jimat Ndakan ke rumah calon Mbah Dhalang selanjutnya.

Masalah terjadi ketika tahun 2017 Mbah Dhalang Sumitro meninggal dunia dan belum sempat mendapatkan wisik. Dhalang penerus akhirnya belum terpilih karena Mbah Dhalang Sumitro tidak memberikan wasiat apapun kepada semua anggota keluarga. Gelaran wayang Jimat Ndakan seakan ditelan bumi karena tanpa penerus. Dengan keadaan lokasi yang sejuk mendekati dingin, tidak pernah pula diisis, kondisi wayang yang berasal dari kulit pastinya juga akan remuk. Itu masih terkait dengan fisik, bagaimana dengan filosofi dan simbol-simbolnya?

Laku tirakat dilakukan mulai dari sowan ke pasren Ki Hajar Ndaka yang berada di basecamp pendakian Merbabu via Wekas. Uba rampe, rapal doa dengan kalimat tayyibah dilaksanakan di depan makam. Tak lupa ngobong menyan sebagai simbol harapan yang membumbung tinggi ke angkasa agar doa yang dipanjatkan segera didengar oleh Yang Maha Mulia. Kelir dipasang di depan para pendoa, berharap ada sebuah gambar seseorang yang muncul menggantikan Mbah Dhalang. Namun agaknya semua itu sia-sia belaka, sampai pada akhirnya tahun 2023, salah seorang warga Kedakan bermimpi untuk menggantikan Mbah Dhalang sebagai penerus dan pemilik Jimat Ndakan.

Meskipun pada akhirnya, tetap akan berbeda cara pandang dan cara melakukan rumatan antara dalang satu dengan yang lainnya sebagai salah satu penjaga tinggalane simbah, mengingat bahwa tidak ada hukum pakem dalam gelaran wayang Jimat Ndakan. Mbah Sumitro tidak pernah mewariskan cara-cara bagaimana ndhalang Jimat Ndakan dan beliau pun tidak pernah diajarkan oleh pendahulunya untuk memainkan wayang serta ritual khusus dalam gelaran wayang Jimat Ndakan. Mbah Dhalang hanya mriksani dan secara tiba-tiba bisa melakukan seperti yang pernah dilihatnya.

Tantangan seperti ini nampaknya bisa dipecahkan dalam era globalisasi, dimana digitalisasi benar-benar diperlukan guna tetap menyelamatkan kondisi spiritual dan kondisi semiotika lewat layar atau sebuah kertas bergambar sebagai bahan visualisasi, mengingat sebuah visual lebih mudah ditangkap oleh orang awam daripada sekadar membayangkan sesuatu. Dan pada akhirnya, setidaknya semiotika urip dalam kearifan lokal Jimat Ndakan tetap terjaga, meskipun bisa dipastikan tidak maksimal. Tidak harus maksimal, menjaga agar para warga Kedakan tetap cinta dan ora lali marang budaya tinggalane Mbah Ndaka itu sudah sesuatu yang luar biasa.

Sebagai generasi milenial, mungkin itu yang lagi bisa dilakoni. Bukan stigma dan paradoks yang selalu menggembor-gemborkan sebuah jargon tentang sebuah budaya nguri-uri tinggalane leluhur tapi sekadar lisan. Itu jauh dari kata semiotika urip yang mereka sudah overlap jauh diatas kita, berkilometer jauhnya. Dari cara berjalan saja generasi milenial sudah jauh tertinggal. Mereka sudah terbiasa menyusuri jalan yang naik turun. Dan sekali lagi, semiotika. Mereka melakukan itu karena wujud syukur atas dasar ngrumat paringan sehat. Pertanyaannya, sanggupkah dan maukah generasi milenial menjaga sebuah simbol ketika fisiknya telah tiada? Mereka telah berjuang secara fisik, sudah seharusnya kita bantu dengan cara kita, generasi milenial. Semoga kita termasuk para penjaga jimat tinggalane simbah dengan cara kita, pada generasi kita dan di tempat kita.





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai

Candi Sambisari

Sejarah pendirian Candi Sambisari be¬lum dapat diketahui secara pasti karena tidak ada¬nya bukti yang konkret. Untuk menentukan tahun pendiriannya harus ditinjau....

Baca Selengkapnya