Istilah Istilah Dalam Pakeliran Wayang Kulit (Seri 2)



Oleh : Faizal Noor Singgih, S.T.P

Gebingan. Merupakan penyebutan untuk wayang kulit yang masih mentah, baru saja selesai ditatah oleh penatah. Untuk beberapa daerah lain, menyebut gebingan dengan istilah putihan, karena wayang kulit mentah yang baru saja selesai ditatah berwarna putih.

Sunggingan. Pewarnaan wayang dengan berbagai macam teknik cara dan jenisnya, sehingga tampilan wayang kulit menjadi menjadi lebih indah dan hidup. Wayang wayang koleksi Kraton Ngayogyakarta, untuk warna emas pada wayang menggunakan prada emas. Hal ini kemudian juga ditiru oleh masyarakat di luar kraton, terutama oleh para kolektor, mengingat harga prada emas yang terbilang mahal. Ragam sunggingan antara lain: tlacapan, kelopan, ulat ulat, drenjeman, cawen dan lain sebagainya.

Dhudhahan. Merupakan wayang wayang yang tidak masuk dalam simpingan. biasanya akan ditata di kanan kiri dhalang. Di kanan dhalang ditata diatas tutup kendhaga atau tutup kothak, sedangkan di kiri dhalang ada yang ditata di dalam kothak maupun ditata dengan eblek yang diletakkan melintang di atas kothak. Termasuk wayang dhudhahan antara lain wayang panakawan, patihan, bala, kewanan, setanan, dan sanjata.

Raton. Merupakan penyebutan bagi wayang kulit dengan postur tubuh tinggi besar baik untuk tokoh raja, dewa, pandita. Dalam simpingan biasanya dipajang di simpingan kanan maupun kiri, mendekati ujung debog simpingan bagian luar. Tokoh tokoh yang termasuk dalam raton simpingan kanan antara lain Triwikrama, Bathara Bayu, Prabu Tuguwasesa, Prabu Jayapusaka, Resi Rama Bargawa, Raden Pulasiya, Raden Werkudara hingga Prabu Danaraja. Sedangkan untuk simpingan kiri mulai dari Brahala, Raden Kumbakarna, Prabu Gorawangsa, Prabu Niwatakaca, Bathara Kala, Prabu Mahesasura, Bathara Gana hingga Resi Bagaspati.  

Gagahan. Menggambarkan golongan tokoh tokoh wayang dengan postur tubuh gagah, baik untuk golongan raja maupun satriya. Ukuran badan dari besar hingga sedang. Tokoh gagahan ini juga dipajang di simpingan sisi kanan dan kiri. Untuk simpingan kanan antara lain Raden Antareja, Raden Gathutkaca, Raden Antasena, Sang Hyang Baruna, Resi Rekathatama hingga Raden Anoman. Sedangkan di simpingan kiri antara lain Prabu Dasamuka,  Raden Rahwana, Prabu Sumali, Prabu Kangsadewa, Prabu Nagabagindha, Bathara Brama, Prabu Baladewa, Bathara Sambu, Raden Kakrasana hingga Resi Bisma.

Katongan. Berasal dari kata katong yang berarti raja. Merupakan wayang yang menggambarkan tokoh tokoh raja, dengan besar dan tinggi badan sedang. Pada umumnya pada wayang katongan raut muka dengan mata kedhelen (bola mata mirip biji kedelai), posisi kaki depan dan belakang rapat. Tokoh tokoh yang termasuk dalam katongan antara lain Bathara Indra, Prabu Basudewa, Prabu Drupada, Prabu Salya, Prabu Dhestharastra, Prabu Sentanu dan lain sebagainya. Tokoh katongan dipajang di simpingan kiri.

Sabrang alus. Untuk menggambarkan tokoh raja raja atau ksatria tampan dari tanah seberang. Golongan wayang ini dipajang di simpingan kiri. Tokoh sabrang alus antara lain : Prabu Dewasrani, Prabu Sri Suwela, Raden Windandini, Raden Naranurwenda, Prabu Jungkungmardeya, Raden Kandhihawa, Prabu Dhentawilukrama dan lain sebagainya.

Alus lanyapan. wayang wayang alusan dengan ciri ciri posisi muka mendongak, mata liyepan atau gabahan (bola mata mirip dengan gabah/bulir padi), posisi kaki depan dan belakang rapat. Tokoh alus lanyapan pada umumnya menggambarkan tokoh muda pemberani namun kadang kurang perhitungan. Dipajang di simpingan sisi kiri. Tokoh alus lanyapan antara lain Raden Narasoma, Raden Narayana, Raden Samba, Raden Warsakusuma, Bathara Panyarikan, Raden Kumbayana, Raden Suman hingga Raden Jakamaruta (raksasa kerdil).

Alusan. Tokoh tokoh wayang yang pada umumnya bercirikan postur tubuh sedang, hidung lancip, mata liyepan atau gabahan, posisi muka ada yang mendongak maupun menunduk, posisi kaki depan dan belakang rapat. Tokoh tokoh wayang ini dipajang di simpingan kanan. Contoh beberapa tokoh wayang alusan antara lain Bathara Guru, Prabu Rama, Prabu Kresna, Bathara Wisnu, Prabu Puntadewa, Prabu Pandhudewanata, Raden Arjuna, Bathara Kamajaya.

Bambangan. Penggambaran wayang untuk tokoh tokoh muda, dengan ciri postur tubuh sedang, hidung lancip, mata liyepan atau gabahan, pada umumnya posisi muka menunduk, posisi kaki depan dan belakang rapat. Tokoh tokoh ini dipajang di simpingan kanan. Contoh beberapa tokoh wayang bambangan antara lain Raden Wijakangka, Raden Permadi, Raden Suryatmaja, Raden Dewabrata, Raden Abimanyu, Raden Reghawa, dan Raden Parikesit.

Bambang jangkah. Adalah tokoh tokoh seukuran wayang bambangan namun dengan ciri posisi kaki depan dan belakang berjarak agak lebar atau anjangkah. Untuk bambang jangkah dengan posisi muka luruh atau menunduk, dipajang di simpingan kanan, sebelah belakang dari wayang bambangan. Contoh beberapa wayang bambang jangkah antara lain Raden Irawan, Raden Pancawala, Puthut Jayasampurna, Puthut Jayasemadi,  Raden Wisnuanjali hingga Bathara Narada.

Putren. Berasal dari kata putri yang berarti wanita. Golongan wayang ini untuk menggambarkan tokoh tokoh putri. Tokoh putren berukuran lebih kecil dari wayang bambangan dan bambang jangkah. Semua wayang putren masuk dalam simpingan kanan. Contoh beberapa wayang putren antara lain Bathari Durga, Dewi Arimbi, Dewi Jembawati, Dewi Rukmini, Dewi Setyaboma, Dewi Kunthi, Dewi Madrim, Dewi Sinta, Dewi Trijatha, Dewi Sembadra, Dewi Srikandhi, Dewi Anjani dan lain sebagainya.

Bayen. Berasal dari kata bayi, termasuk golongan simpingan kanan, untuk menggambarkan tokoh bayi dan tokoh dewa dewa yang bertubuh kecil, melambangkan kesucian. Simpingan tokoh bayen ini terletak di urutan paling belakang simpingan kanan, dibelakah tokoh putren.

Gunungan atau Kayon. Perangkat wayang yang wujudnya menyerupai gunung, oleh karena itu disebut gunungan. Ada juga yang menyebutnya dengan nama kayon. Kayon berasal dari kata kayu, karena wayang ini menggambarkan bentuk pohon hayat atau pohon kehidupan, beserta dengan hewan hewan liar penghuni hutan. Berdasarkan ornamennya, kayon dibedakan menjadi dua, yaitu kayon blumbangan dan kayon gapuran. Disebut kayon blumbangan karena di dalamnya ada gambaran blumbang atau kolam lengkap dengan air dan ikan serta beberapa wujud hewan lainnya. Sedangkan di dalam kayon gapuran, di dalamnya terdapat ornamen gapura yang dijaga oleh dua sosok raksasa di kanan dan kiri gapura. Pada umumnya, kayon atau gunungan disungging / diwarnai dengan gambaran yang berbeda di kedua sisinya. Pada satu sisi disungging runtut sesuai dengan tatahannya, dan di sisi lain disungging banaspati, sosok kepala raksasa berambut api yang berkobar. Dalam pakeliran gunungan memiliki berbagai macam fungsi. Antara lain adalah sebagai penanda dimulai dan selesainya sebuah pergelaran wayang; sebagai penanda pembuka dan penutup suatu adegan; sebagai penanda pergantian adegan; untuk menggambarkan hal hal yang tidak ada bentuk wayangnya, semisal untuk tanah, api, air, tanah, udara, batu, ajian, mega, sinar matahari, lautan, gelombang samudra, sungai, gunung, gua, hutan dan lain sebagainya. Sebelum pergelaran dimulai, gunungan akan tertancap tegak lurus di debog atas. Demikian juga ketika pergelaran berakhir, gunungan akan ditancapkan lagi tegak lurus di debog atas tepat di tengah kelir, atau lebih dikenal dengan istilah tanceb kayon. Pada masa lalu, pergelaran wayang kulit hanya menggunakan satu gunungan saja untuk berbagai fungsinya. Ini masih dilestarikan di Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sedangkan perkembangannya, gunungan dikreasi dengan berbagai macam wujud dan kegunaanya. Wayang gunungan untuk pertama kali diciptakan pada taun 1443 Caka, dengan sengkalan berbunyi Geni Dadi Sucining Jagad.

Patihan. Untuk penyebutan wayang golongan patih. Pada umumnya wayang patihan termasuk dalam wayang dhudhahan, namun untuk patihan raksasa biasanya dipajang masuk dalam simpingan kiri. Golongan wayang patihan antara lain Patih Udawa, Patih Sengkuni, Patih Nirbita, Patih Handakawana, Patih Hadimanggala, Patih Pragota. Sedangkan golongan patih raksasa antara lain Patih Prahastha, Patih Lembusura, Patih Sekipu, Resi Wisnungkara, Tenung Gohmuka dan lain sebagainya.

Parepat Panakawan. Adalah para tokoh pamomong, baik pamomong tokoh ksatria protagonis maupun antagonis. Wayang panakawan ini termasuk golongan wayang dhudhahan, tidak dipajang dalam simpingan. Ditata dengan eblek di sebelah kanan dhalang di atas tutup kothak. Tokoh wayang panakawan ini adalah Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, Bilung, Limbuk, Cangik, Cantrik, Emban, Keparak.

Kewanan. Termasuk dalam wayang dhudhahan, golongan tokoh wayang yang menggambarkan hewan, kendaraan prajurit dan sebagainya. Ditata dengan eblek di sebelah kanan dhalang di atas tutup kothak. Contoh golongan kewanan antara lain kuda, gajah, garudha, naga, banteng, macan, kereta, tandhu dan prahu.       

Setanan. Termasuk dalam wayang dhudhahan, golongan tokoh wayang yang menggambarkan setan atau hantu. Ditata dengan eblek di dalam kothak sebelah kiri dhalang. Contoh setanan antara lain wewe, pocongan, banaspati, lelepah, jrangkong, waru dhoyong, thethekan, janggitan dan lain sebagainya.

Branyak. Penyebutan lain dari lanyapan, yaitu posisi muka wayang cenderung mendongak, baik untuk golongan wayang alusan, bambangan, bambang jangkah, putren maupun bayen. Untuk wayang golongan gagahan, jika posisi muka mendongak cenderung disebut dengan ndangak, bukan branyak. Contoh wayang branyak antara lain Raden Wisanggeni, Raden Nakula, Raden Sadewa, Raden Narasoma, Raden Narayana, Dewi Srikandhi, Dewi Trijatha, Dewi Gendari, Dewi Banowati.

Longok. Posisi muka wayang yang cenderung menatap ke depan, tidak mendongak maupun menunduk. Contoh tokoh wayang dengan posisi muka longok antara lain Raden Antasena, Raden Dursasana, Prabu Baladewa, Patih Udawa, Petruk.

Luruh. Penyebutan posisi muka wayang yang cenderung menunduk, untuk semua golongan wayang. Contoh wayang luruh antara lain Raden Werkudara, Prabu Puntadewa, Bathara Guru, Raden Janaka, Dewi Kunthi dan lain sebagainya.

 





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai

Tembang Asmarandana

Tembang Asmaradana artinya tembang yang menggambarkan cinta, menggambarkan keadaan manusia ketika mulai beranjak dewasa dan mulai tertarik dengan lawan jenisnya.

Aturan persajakan :

  1. Guru gatra :....

    Baca Selengkapnya