Sejarah Wayang Kulit Purwa



Sesuai dengan namanya, wayang kulit terbuat dari kulit binatang (kerbau, lembu atau kambing). Wayang kulit dipakai untuk memperagakan Lakon-lakon dari Babad Purwo yaitu Mahabarata dan Ramayana, oleh karena itu disebut juga wayang purwa. Sampai sekarang pertunjukan wayang kulit disamping merupakan sarana hiburan juga merupakan salah satu bagian dari upacara-upacara adat seperti : bersih desa, ngruwat, dan lain-lain.

Untuk mementaskan pertunjukan wayang kulit secara lengkap dibutuhkan kurang lebih sebanyak 18 orang pendukung. Satu orang sebagai dalang, 2 orang sebagai waranggana, dan 15 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara. Rata-rata pertunjukan dalam satu malam adalah 7 sampai 8 jam, mulai dari jam 21.00 sampai jam 05.00 pagi. Bila dilakukan pada siang hari pertunjukan biasanya dimulai dari jam 09.00 sampai dengan jam 16.00.

Tempat pertunjukan wayang ditata dengan menggunakan konsep pentas yang bersifat abstrak. Arena pentas terdiri dari layar berupa kain putih dan sebagai sarana tehnis di bawahnya ditaruh batang pisang untuk menancapkan wayang. Dalam pertunjukan wayang kulit , jumlah adegan dalam satu lakon tidak dapat ditentukan. Jumlah adegan ini akan berbeda-beda berdasarkan lakon yang dipertunjukkan atau tergantung dalangnya. Sebagai pra-tontonan adalah tetabuhan yang tidak ada hubungannya dengan ceritera pokok, jadi hanya bersifat sebagai penghangat suasana saja atau pengantar untuk masuk ke pertunjukan yang sebenarnya.

Yogyakarta merupakan pusat pemerintahan dan kegiatan kebudayaan, kesenian pada masa silami tepatnya setelah kerajaan Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Kerajaan Surakarta dan kerajaan Yogyakarta (Ngayogyakarta Hadiningrat) yang masing¬masing mempunyai kedaulatan sendiri-sendiri.

Masjkuri dan Sutrisna Kutaja dalam Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai berikut:

Kerajaan Yogyakarta lahir dari tercapainya perdamaian antara Susuhunan Paku Buwono III Pangeran Harya Mangkubumi, yang berlangsung pada tanggal 13 Pebruari 1755 .di desa Giyanti daerah Karanganyar Surakarta. Dengan terbaginya kerajaan Mataram menjadi kerajaan Surakarta dan kerajaan Yogyakarta, timbullah suasana baru dalam aldm kebudayaan dan kesenian di kerajaan Yogyakarta khususnya.

Bertitik tolak dari sinilah kesenian tumbuh dan berkembang dengan gaya yang baru yaitu gaya Yogyakarta, termasuk juga dalam wayang kulit puma. Sedangkan yang dimaksud dengan gaya adalah corak atau langgam yang dalam bahasa Inggris disebut “Sytle”.

Dalam Ensiklopedia Indonesia dijelaskan sebagai berikut:

Sebenarnya gaya berarti sikap pribadi dari seniman terhadap gejala-gejala penghidupannya. Gaya berarti pula penjelmaan getaran-getaran sukma dan seniman. Seniman senantiasa hidup dan berhubungan dengan masyarakat dan massanya. Oleh sebab itu gaya juga mengungkapkan masyarakat dan massanya tersebut.

Jadi pengertian gaya merupakan suatu terminologi dalam dunia seni yang memberikan keterangan tentang adanya suatu langgam atau corak tertentu. Sehingga masing-masing dapat dilihat dan dibedakan dengan jelas.

Adanya corak dalam wayang kulit purwa tidak berarti diciptakan oleh seorang saja, tetapi oleh beberapa seniman yang saling menyempurnakan dalam mencapai bentuk wayang yang sempur-na. Demikian halnya dengan wayang kulit purwa gaya Yogyakarta, yang tidak lepas dari tokoh-tokoh seniman yang membuat wayang, serta tidak lepas pula dari para Penguasa (raja) pada waktu wayang tersebut dibuat.

Tokoh-tokoh seniman wayang yang ikut andil dalam mewujudkan Wayang Kulit Purwa gaya Yogyakarta, dapat disebutkan sebagai berikut:

Ki Jayaprana dengan hiasan cawen (guratan) pada sunggingannya.
Ki Panatas menyempurnakan sunggingan dengan menambah jenis sunggingan pada wayang kulit purwa tersebut dengan apa yang disebut Drenjeman.
Ki Rowong yang menyempur-nakan sunggingan itu dengan kembangan-kembangan yang selanjutnya disebut bludiran.
Ki Grenteng menyempurnakan hasil wayang yang sudah ada dengan menambah jenis sung-gingan bercorak sinar, yang biasanya kelihatan seperti payung bila sedang menelungkup. Dalam istilah sungging disebut sungging tlacapan.
Dari kegiatan para seniman wayang (penatah dan penyungging) yang saling menyempurnakan itu mendapatkan suatu hasil yang sempurna pula. Seperti yang dijumpai saat sekarang mengenai wayang kulit purwa gaya Yogyakarta.

Wayang kulit purwa gaya Yogyakarta mempunyai corak tertentu yang berbeda dengan wayang gaya lain dan memiliki karakter Yogyakarta.

Sumber : Wayang Kulit Purwa Yogyakarta : Sebuah Tinjauan Tentang Bentuk Ukiran, Sunggingan

Oleh : Sunarto
Penerbit : PT Balai Pustaka 1989





img

Jogja Belajar Budaya

JB Budaya adalah salah satu layanan unggulan Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan DIY yang terintegrasi dengan jogjabelajar.org. JB Budaya merupakan media pembelajaran berbasis website yang mempelajari tentang budaya-budaya di Yogyakarta.




Artikel Terkait

Artikel yang juga anda sukai